Kita semua tahu kopi itu enak. Bisa bikin melek, nemenin kerja, atau sekadar jadi ritual pagi yang susah ditinggalin. Tapi pernah nggak sih kepikiran: kapan kita minum kopi, apakah juga berpengaruh?
Ternyata, iya.
Sebuah penelitian besar di Amerika Serikat yang melibatkan lebih dari 40.000 orang dewasa menemukan hal menarik: orang yang minum kopi di pagi hari punya risiko kematian lebih rendah, terutama akibat penyakit jantung. Sementara mereka yang minum kopi sepanjang hari, meski jumlahnya sama, nggak dapat manfaat yang sama.
Riset ini, seperti dilansir Independent UK (November 2025), membagi waktu ngopi jadi tiga: pagi (subuh sampai menjelang siang), siang (makan siang sampai sore), dan malam (sore sampai dini hari). Hasilnya cukup mengejutkan.
Mereka yang rutin ngopi sebelum tengah hari risikonya turun 16% untuk kematian secara umum, dan 31% lebih rendah untuk kematian akibat penyakit jantung. Angka yang lumayan signifikan, kan?
Lalu, kenapa yang ngopi seharian nggak dapat manfaat yang sama?
Jawabannya kemungkinan besar ada di jam biologis tubuh kita.
Tubuh manusia punya “jam internal” yang mengatur kapan kita harus bangun, kapan harus istirahat, dan kapan hormon-hormon tertentu diproduksi. Salah satunya melatonin, hormon yang bikin kita ngantuk dan membantu tubuh tidur nyenyak.
Nah, kafein yang masuk di sore atau malam hari bisa mengacaukan ritme ini. Otak jadi susah rileks, tidur jadi nggak berkualitas, dan dalam jangka panjang, hal ini bisa memengaruhi tekanan darah dan kesehatan jantung.
Singkatnya: kopi-nya sama, tapi timing-nya yang bikin beda hasil.
Apa kata para ahli?
Dr. Lu Qi dari Tulane University, yang memimpin penelitian ini, bilang ini adalah studi pertama yang benar-benar melihat hubungan antara jam minum kopi dan risiko kesehatan. Selama ini, kopi memang sudah dikenal nggak berbahaya buat jantung, bahkan bisa bantu cegah beberapa penyakit kronis. Tapi soal waktu, belum banyak yang meneliti.
“Minum kopi di waktu yang kurang tepat bisa memengaruhi hormon dan faktor risiko jantung,” jelasnya. Ia juga menekankan bahwa masih perlu riset lanjutan untuk memastikan apakah sekadar menggeser jam ngopi saja sudah cukup memberi dampak positif.
Profesor Thomas Lüscher dari London sepakat. Menurutnya, bukti ilmiah saat ini sudah cukup kuat untuk memberi saran sederhana: kalau mau dapat manfaat kopi tanpa mengorbankan tidur, pagi hari adalah waktu terbaik.
Satu hal menarik lain: orang yang ngopi di pagi hari cenderung minum lebih sedikit dibanding mereka yang ngopi seharian. Tapi justru kelompok yang lebih “hemat” inilah yang dapat manfaat kesehatan lebih besar. Ini mengisyaratkan bahwa mungkin bukan cuma soal jumlah kopi, tapi juga pola dan kebiasaan yang menyertainya.
Dan satu catatan lagi: temuan ini berlaku baik untuk kopi berkafein maupun tanpa kafein. Jadi, bukan cuma soal stimulan, tapi juga ritual dan waktu yang kita pilih.
Jadi, apa yang bisa kita ambil?
Kalau kamu pecinta kopi dan peduli dengan kesehatan jangka panjang, mungkin worth it untuk mencoba menggeser kebiasaan ngopi ke pagi hari. Nggak perlu drastis, bisa mulai pelan-pelan. Dan kalau memang harus ngopi di sore hari, coba batasi jumlahnya, atau pertimbangkan opsi decaf.
Kesimpulan
Dengarkan tubuhmu. Kalau setelah ngopi sore kamu jadi susah tidur atau jantung berdebar, itu sinyal yang layak diperhatikan.
Kopi itu teman, bukan musuh. Tinggal kita yang perlu belajar kapan waktu terbaik untuk menikmatinya.


Komentar