Kasus viral dugaan penodongan senjata api di kawasan Jalan Bambu, Medan, mengungkap adanya keterlibatan empat pelaku dalam satu rangkaian kejadian yang berujung penganiayaan. Dari jumlah tersebut, satu orang diketahui memegang senjata api yang digunakan untuk mengancam korban secara langsung di jalan.
Peristiwa ini memperlihatkan pola aksi terorganisir, di mana para pelaku tidak hanya melakukan pengejaran, tetapi juga menghadang dan melakukan intimidasi dengan senjata.
Saksi, Rofiky (Viky) Nduru, menegaskan bahwa jumlah pelaku cukup banyak dan mereka bergerak bersama dalam satu kelompok.
“Kalau jumlahnya malam itu ada empat orang Bang semuanya. Mereka datang bareng-bareng, satu yang pakai senpi, yang lain ikut mendukung di situ,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa senjata api tersebut menjadi faktor utama yang membuat situasi semakin mencekam dan tidak seimbang.
“Yang pegang senpi itu satu orang Bang, tapi itu sudah cukup buat kami takut. Karena ditodong langsung di jalan, jadi kami nggak berani macam-macam,” katanya.
Menurutnya, keberadaan empat pelaku membuat korban sulit untuk melawan atau bahkan sekadar bertahan.
“Kami kalah jumlah Bang, mereka empat orang, kami cuma berdua. Jadi waktu mereka mulai agresif, kami hanya bisa bertahan dan mencoba menyelamatkan diri,” ungkapnya.
Situasi kemudian memuncak ketika para pelaku terus menekan korban hingga terjadi bentrokan fisik.
“Sampai di lokasi itu mereka makin dekat, makin mepet, dan akhirnya menyerang kawan saya yang pakai singlet putih. Di situlah mulai baku hantam,” jelasnya.

