Program pemanfaatan limbah batu bara jenis fly ashdan bottom ash(FABA) untuk pengaspalan jalan di kawasan Medan Deli dinilai mampu menjawab kebutuhan infrastruktur masyarakat sekaligus mendukung prinsip pembangunan berkelanjutan. Kegiatan yang melibatkan PT PLN (Persero) UIP3B Sumatera UPT Medan bersama Baitulmaal Muamalat Sumut ini telah terealisasi melalui perbaikan sejumlah ruas jalan lingkungan dengan hasil yang dinilai memuaskan, Rabu (22/4/2026).
Perwakilan Baitulmaal Muamalat Sumut, Budi Syahputra, menjelaskan bahwa program tersebut berawal dari asesmen dan pemetaan sosial yang dilakukan bersama pemerintah setempat. Dari hasil tersebut, perbaikan jalan menjadi salah satu kebutuhan utama masyarakat.
Ia menyebut, pihaknya telah berkoordinasi dengan berbagai pihak, mulai dari camat, lurah, hingga dinas terkait agar program ini selaras dengan arah pembangunan Kota Medan.
“Berdasarkan hasil pemetaan sosial yang kami lakukan bersama pemerintah setempat, salah satu kebutuhan utama masyarakat adalah perbaikan atau pengerasan jalan. Ini sejalan dengan program yang dicanangkan oleh PLN UIP3BS UPT Medan,” ujarnya.
Budi menambahkan, pengerjaan jalan dilakukan di beberapa titik seperti Jalan Melati, Jalan Kemuning, dan Gang Keri dengan total luas mencapai sekitar 900 meter persegi. Proses pengerjaan pun telah melalui tahapan verifikasi dan pengawasan dari dinas terkait untuk memastikan kualitas konstruksi sesuai standar.
“Alhamdulillah, pengaspalan jalan telah selesai dikerjakan sejak Juli hingga Agustus 2025 dengan luas kurang lebih 900 meter persegi dan sudah diverifikasi untuk memastikan kualitas konstruksinya,” katanya.
Dalam prosesnya, material FABA digunakan sebagai campuran agregat dalam pengaspalan dengan komposisi sekitar 12 persen. Pemanfaatan ini dinilai aman setelah FABA tidak lagi dikategorikan sebagai limbah B3 sejak 2021.
“FABA yang kami gunakan merupakan limbah non-B3 sehingga dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Dalam pengaspalan ini, komposisi FABA mencapai 12 persen dari total material,” jelas Budi.
Senada dengan itu, Manager PLN UPT Medan, Doni Andreas, mengatakan bahwa program ini merupakan bagian dari tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) PLN terhadap masyarakat di sekitar aset operasional mereka, khususnya akses menuju Gardu Induk GIS Mabar yang sebelumnya mengalami kerusakan.
Ia mengungkapkan bahwa kondisi jalan yang rusak menjadi perhatian pihaknya hingga akhirnya diusulkan untuk diperbaiki melalui pemanfaatan FABA.
“Salah satu akses menuju Gardu Induk GIS Mabar melewati Jalan Kemuning yang sebelumnya dalam kondisi rusak. Dari situ muncul inisiatif untuk melakukan pengaspalan dengan memanfaatkan FABA,” ujarnya.
Doni juga menegaskan bahwa pemanfaatan FABA tidak hanya berdampak pada perbaikan infrastruktur, tetapi juga membuka peluang pemanfaatan limbah secara lebih luas di sektor konstruksi.
“FABA ini sebelumnya dianggap limbah B3, namun setelah dikaji ternyata tidak beracun sehingga bisa dimanfaatkan, salah satunya sebagai campuran aspal seperti yang kita lakukan saat ini,” katanya.
Ia berharap program ini dapat terus berlanjut dan menjadi perhatian di tingkat pusat agar dapat diterapkan di wilayah lain.
“Kami berharap program ini bisa berkelanjutan dan menjadi perhatian pimpinan di pusat, sehingga manfaatnya bisa dirasakan lebih luas oleh masyarakat,” ucapnya.
Selain pengaspalan jalan, pemanfaatan FABA juga telah dikembangkan dalam bentuk lain seperti batako, bahkan menjadi bahan kajian ilmiah melalui seminar yang melibatkan akademisi dari berbagai perguruan tinggi.


Komentar