Gerhana Bulan Total pada 3 Maret 2026 menjadi salah satu fenomena astronomi paling dinantikan tahun ini. Tidak hanya menghadirkan pemandangan dramatis “Blood Moon”, peristiwa ini juga memiliki penjelasan ilmiah yang menarik.
Berdasarkan keterangan resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gerhana terjadi ketika Bumi berada tepat di antara Matahari dan Bulan pada fase purnama, sehingga Bulan sepenuhnya masuk ke dalam bayangan inti Bumi atau umbra. Saat fase totalitas inilah Bulan tampak berwarna merah.
Warna kemerahan tersebut terjadi akibat hamburan Rayleigh di atmosfer Bumi. Cahaya Matahari dengan panjang gelombang pendek seperti biru lebih banyak tersebar ke segala arah, sedangkan cahaya berpanjang gelombang lebih panjang seperti merah tetap diteruskan dan dibiaskan menuju Bulan. Akibatnya, meski tidak menerima cahaya langsung, permukaan Bulan tetap tampak bercahaya dalam rona merah tembaga.
BMKG menjelaskan, rangkaian gerhana berlangsung selama beberapa jam, dengan fase totalitas hampir satu jam. Puncak gerhana terjadi pada malam hari waktu Indonesia, sehingga masyarakat berkesempatan menyaksikannya tanpa alat khusus, cukup dengan mata telanjang selama kondisi langit cerah.
Wilayah Indonesia bagian timur diperkirakan memiliki peluang observasi lebih baik karena dapat melihat fase awal sejak Bulan terbit. Sementara di wilayah barat Indonesia, Bulan terbit ketika gerhana telah memasuki tahap lanjut atau mendekati totalitas.
Secara astronomi, peristiwa ini termasuk dalam seri Saros 133 dan menjadi satu-satunya Gerhana Bulan Total pada 2026 yang dapat diamati dari Indonesia. Dengan lokasi minim polusi cahaya, fenomena ini menjadi momen langka untuk menikmati keindahan langit sekaligus memahami dinamika tata surya secara langsung.

















