Pemerintah Provinsi Sumatera Utara tengah mempersiapkan sistem transportasi Bus Rapid Transit (BRT) untuk kawasan Medan, Binjai, dan Deliserdang (Mebidang) yang ditargetkan mulai beroperasi tahun ini.
Pada tahap awal operasional, BRT dirancang melayani 12 koridor. Sebanyak 10 koridor berada di Kota Medan, sedangkan dua jalur lainnya melayani kawasan Mebidang dan berada di bawah pengelolaan Pemprov Sumut bersama Kementerian Perhubungan.
Dua jalur tersebut yakni rute Binjai–Medan–Carrefour serta Lubukpakam–Amplas–Simpang Pelangi. Pemerintah berharap sistem transportasi massal ini mampu mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan pribadi.
“Ini bertujuan untuk mengurangi emisi dan penggunaan kendaraan pribadi karena di daerah kita penggunaan kendaraan pribadi terus meningkat. Itu karena transportasi umumnya masih minim, mudah-mudahan bisa kita nikmati tahun ini,” kata Sekretaris Dinas Perhubungan Sumut Rochani Litiloly dalam konferensi pers, Jumat (6/3/2026) lalu.
Sementara itu, Tenaga Ahli Dinas Perhubungan Sumut Darwin Purba menyebut sistem BRT yang akan diterapkan mengadopsi konsep integrasi transportasi seperti yang diterapkan di Jakarta melalui Jaklingko.
“BRT dia punya jalur khusus sendiri, seperti Transjakarta, jadi dia akan lebih cepat. Kemudian kita juga berupaya agar angkot yang ada menjadi feeder untuk BRT, sehingga semua terintegerasi,” kata Darwin Purba.
Selain itu, pemerintah juga masih menyusun kebutuhan jumlah armada serta mempersiapkan pembangunan depo untuk mendukung operasional bus listrik yang akan digunakan pada sistem BRT tersebut.
“Masih dalam proses, dan demandnya masih terus berubah misalnya dari 17 koridor menjadi 14 kemudian 12. Itu akan menentukan jumlah bus dan depo yang kita butuhkan. Setelah kontrak selesai, kita masih menunggu paling tidak lima bulan untuk pemesanan bus listriknya karena bus ini build up,” kata Rochani.

















