Medan Aktual – Pasar modal Indonesia dihantam badai besar pada perdagangan dilansir pada 14 Maret 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup merosot tajam 3,05% atau terpangkas 224,91 poin ke level 7.137,21. Sentimen negatif ini dipicu oleh kekhawatiran global terhadap pasokan energi akibat perang Iran melawan Amerika Serikat dan Israel yang diprediksi akan berlangsung lama. Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG konsisten bergerak di zona merah dengan volatilitas tinggi. Nilai transaksi tercatat mencapai Rp 14,02 triliun dengan 656 saham yang mengalami penurunan harga.
Sektor teknologi menjadi yang paling menderita dengan koreksi mencapai -4,86%, disusul sektor energi dan konsumer non-primer. Saham Bank Mandiri (BMRI) dan Bumi Resources (BUMI) mencatatkan nilai transaksi terbesar di tengah aksi jual masif para investor. Kecemasan investor bukan tanpa alasan. Harga minyak mentah dunia telah melonjak lebih dari 38% hanya dalam waktu kurang dari dua pekan. Minyak jenis Brent kini bertengger di level US$ 100,72 per barel, sementara WTI menyentuh US$ 95,37 per barel.
Serangan terhadap kapal tanker di perairan Irak semakin memperkeruh suasana, memicu kekhawatiran serius terhadap keamanan jalur navigasi global. Di tengah eskalasi militer, intelijen Amerika Serikat melaporkan bahwa struktur kepemimpinan Iran tetap solid di bawah kendali Mojtaba Khamenei, putra dari pemimpin sebelumnya. Dalam pernyataan publik perdananya, Mojtaba menegaskan posisi Iran untuk tetap menutup Selat Hormuz sebagai alat tawar politik dan ekonomi guna menekan musuh.
Gertakan ini memicu kekhawatiran harga minyak bisa menyentuh angka psikologis US$ 200 per barel. Tekanan tidak hanya dirasakan di dalam negeri. Bursa saham Asia seperti Nikkei di Jepang dan Kospi di Korea Selatan juga ikut memerah. Para pelaku pasar kini bersiap menghadapi ketidakpastian ekonomi yang lebih luas, terutama dengan adanya gangguan pada rantai pasok energi dunia yang sangat bergantung pada stabilitas di kawasan Teluk










