Medan Aktual – Di tengah kondisi pasar modal yang sedang mengalami tekanan hebat, PT Astra International Tbk (ASII) mengambil langkah strategis untuk menjaga nilai pemegang saham. Raksasa otomotif dan konglomerasi ini menjadwalkan kembali program pembelian kembali saham (buyback) dengan alokasi dana maksimal Rp2 triliun.
Aksi ini dilakukan tepat saat IHSG ditutup terjun bebas lebih dari 3% pada perdagangan Jumat (13/3/2026). Saham ASII sendiri tercatat mengalami koreksi sebesar 2,10% ke level Rp 5.825 pada penutupan perdagangan hari ini, melengkapi penurunan sebesar 7,91% dalam sepekan terakhir. Program buyback ini direncanakan berlangsung mulai 16 Maret hingga 15 Juni 2026. Perseroan menekankan bahwa pembelian akan dilakukan pada tingkat harga yang dianggap baik dan wajar, guna memberikan sinyal positif mengenai nilai intrinsik perusahaan kepada publik.
Astra memastikan bahwa seluruh dana yang digunakan berasal dari kas internal, bukan dari pinjaman pihak ketiga atau hasil penawaran umum. Hal ini menunjukkan posisi likuiditas perseroan yang sangat sehat meski kondisi ekonomi makro sedang dihantam ketidakpastian geopolitik. Manajemen juga menjamin bahwa aksi ini tidak akan mengganggu kinerja keuangan maupun operasional perusahaan di masa depan.
Dalam pelaksanaannya, Astra tetap patuh pada regulasi dengan menjaga jumlah saham yang dibeli kembali tidak melebihi 20% dari modal disetor. Perseroan juga berkomitmen mempertahankan porsi saham publik (free float) minimal sebesar 7,5%. Ini merupakan kelanjutan dari konsistensi Astra dalam melakukan buyback, di mana pada periode sebelumnya di awal tahun 2026, mereka telah menyerap sekitar 104,85 juta saham.
Langkah ini dipandang oleh banyak analis sebagai bentuk “Shortcut Thinking” yang logis dari manajemen untuk menahan kejatuhan harga lebih dalam. Dengan menyerap saham di pasar saat harga sedang terdiskon, Astra secara tidak langsung memperkuat kepercayaan investor jangka panjang. Bagi para pelaku pasar, aksi buyback emiten sebesar Astra seringkali menjadi indikator bahwa harga saham saat ini sudah berada di bawah nilai wajarnya.










