Minggu, 22 Maret 2026
Informasi Aktual
No Result
View All Result
  • Beranda
  • BPJS
    • BPJS Kesehatan
    • BPJS Ketenagakerjaan
  • CPNS
    • PPPK
  • Ekonomi
  • Hiburan
  • Info
  • Kesehatan
  • Pendidikan
  • Tips dan Panduan
  • Redaksi
  • Beranda
  • BPJS
    • BPJS Kesehatan
    • BPJS Ketenagakerjaan
  • CPNS
    • PPPK
  • Ekonomi
  • Hiburan
  • Info
  • Kesehatan
  • Pendidikan
  • Tips dan Panduan
  • Redaksi
No Result
View All Result
Medan aktual
No Result
View All Result

Manfaat Puasa untuk Kesehatan, Salah Satunya Memicu Autofagi

Ahmad Rian by Ahmad Rian
18 Maret 2026
in Berita, Info
0
Manfaat Puasa untuk Kesehatan, Salah Satunya Memicu Autofagi

Manfaat Puasa untuk Kesehatan, Salah Satunya Memicu Autofagi

Puasa yang dijalankan oleh umat Muslim selama bulan Ramadan tidak hanya memiliki nilai spiritual, tetapi juga memberikan berbagai manfaat bagi kesehatan tubuh. Durasi puasa yang berlangsung sekitar 12–14 jam, bahkan bisa lebih lama di beberapa wilayah, mampu memicu proses autofagi, yaitu mekanisme alami tubuh untuk membersihkan serta mendaur ulang sel-sel yang rusak dan menggantinya dengan sel baru.

Dosen Gizi Kesehatan dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM), Dr. Mirza Hapsari Sakti Titis Penggalih, S.Gz., Dietisien, MPH, menjelaskan bahwa proses autofagi umumnya membutuhkan waktu sekitar 12–16 jam. Dengan demikian, durasi puasa Ramadan dinilai sudah cukup untuk memicu proses detoksifikasi dalam tubuh.




Ia menambahkan bahwa autofagi berperan penting dalam membersihkan sekaligus memperbaiki sel-sel tubuh yang mengalami kerusakan. Sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa proses ini berkaitan dengan kestabilan kadar gula darah, peningkatan sensitivitas insulin, penurunan berat badan, serta berkurangnya kadar kolesterol dalam tubuh.

Lebih lanjut, Mirza menjelaskan perbedaan antara puasa Ramadan dan intermittent fasting (IF). Keduanya sama-sama memberikan manfaat kesehatan, namun memiliki mekanisme yang sedikit berbeda, terutama dalam penurunan berat badan. Pada IF, penurunan berat badan lebih banyak disebabkan oleh pemanfaatan cadangan lemak tubuh. Sementara pada puasa Ramadan, penurunan berat badan tidak hanya dipengaruhi oleh pembakaran lemak, tetapi juga karena berkurangnya asupan cairan selama berpuasa.




Dari sisi metabolisme glukosa, manfaat puasa dalam meningkatkan sensitivitas insulin dinilai konsisten pada berbagai kelompok usia. Pada individu sehat, puasa membantu menjaga fungsi insulin tetap optimal. Sementara pada kondisi pradiabetes, puasa dapat membantu mengatur kadar gula darah agar lebih stabil. Namun, bagi penderita diabetes tipe 2, diperlukan perhatian khusus terutama dalam pengaturan obat dan pola makan.




Ia mengingatkan bahwa penderita diabetes yang tetap mengonsumsi obat tanpa diimbangi dengan pola makan yang terkontrol saat sahur dan berbuka berisiko mengalami hipoglikemia. Oleh karena itu, pengelolaan pola makan sama pentingnya dengan konsumsi obat.

Perubahan pola tidur dan waktu makan selama Ramadan juga tidak perlu dikhawatirkan secara berlebihan. Meskipun terjadi penyesuaian ritme biologis, kondisi ini bersifat sementara dan hanya berlangsung selama satu bulan.

Dari sisi psikologis, puasa juga memberikan dampak positif terhadap kestabilan emosi. Kondisi sugar rush akibat konsumsi gula berlebih dapat ditekan selama puasa karena aliran glukosa dalam tubuh menjadi lebih terkontrol, sehingga membantu seseorang lebih tenang dan tidak mudah terpancing emosi.




Dalam hal pemenuhan nutrisi, Mirza menegaskan bahwa puasa tidak mengurangi kebutuhan gizi harian, melainkan hanya mengubah waktu makan. Oleh karena itu, penting untuk tetap memenuhi asupan gizi seimbang saat sahur dan berbuka.

Kelompok tertentu seperti anak-anak dan lansia perlu mendapatkan perhatian khusus. Anak-anak yang masih dalam masa pertumbuhan boleh berpuasa dengan pendampingan orang tua, terutama terkait asupan nutrisi. Sementara lansia dengan kondisi kesehatan tertentu, seperti sering merasa lemah atau pusing, sebaiknya tidak memaksakan diri untuk berpuasa.

Ia juga menyebut bahwa puasa dapat menjadi semacam proses metabolik alami yang dapat diamati melalui perubahan parameter kesehatan, misalnya melalui pemeriksaan kesehatan sebelum dan setelah Ramadan.




Meski memiliki banyak manfaat, puasa tidak dianjurkan dilakukan secara berlebihan tanpa pengawasan medis. Puasa dalam jangka panjang secara terus-menerus berisiko meningkatkan asam lambung, memicu GERD, menyebabkan gangguan hormonal, serta penurunan berat badan yang tidak sehat.

Puasa Ramadan tidak hanya memberikan manfaat spiritual, tetapi juga berdampak positif bagi kesehatan, salah satunya dengan memicu proses autofagi yang membantu memperbaiki dan membersihkan sel-sel tubuh. Selain itu, puasa juga berperan dalam menjaga kestabilan gula darah, meningkatkan sensitivitas insulin, serta mendukung pengendalian berat badan dan kadar kolesterol.




Namun, manfaat tersebut akan optimal jika diimbangi dengan pola makan yang sehat, pemenuhan gizi seimbang, serta pengaturan aktivitas yang baik. Kelompok tertentu seperti penderita diabetes, anak-anak, dan lansia perlu memperhatikan kondisi tubuh dan tidak memaksakan diri.

Dengan penerapan yang tepat, puasa dapat menjadi bagian dari pola hidup sehat. Meski demikian, puasa tidak dianjurkan dilakukan secara berlebihan tanpa pengawasan medis karena berpotensi menimbulkan risiko kesehatan.

Tags: Manfaat Puasa untuk Kesehatan
Next Post
Jadwal Imsakiyah Ramadhan 2026 Jakarta & Jabodetabek Rabu 18 Maret 2026

Jadwal Imsakiyah Ramadhan 2026 Jakarta Dan Jabodetabek Rabu 18 Maret 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

POPULAR NEWS

Kumpulan Ucapan Selamat Lebaran 2026 Lengkap dengan Kata Permintaan Maaf

Kumpulan Ucapan Selamat Lebaran 2026 Lengkap dengan Kata Permintaan Maaf

20 Maret 2026
Kapan Lebaran NU dan Muhammadiyah 2026? Simak Penentuan Tanggal 1 Syawal Berikut

Kapan Lebaran NU dan Muhammadiyah 2026? Simak Penentuan Tanggal 1 Syawal Berikut

19 Maret 2026
Perkiraan Idul Fitri 2026 Berdasarkan NU, Muhammadiyah, BRIN, dan BMKG

Perkiraan Idul Fitri 2026 Berdasarkan NU, Muhammadiyah, BRIN, dan BMKG

17 Maret 2026
Sidang Isbat Lebaran 2026: Catat Tanggal, Tahapan dan Prediksi 1 Syawal 1447 H

Sidang Isbat Lebaran 2026: Catat Tanggal, Tahapan dan Prediksi 1 Syawal 1447 H

18 Maret 2026
Kapan Sidang Isbat Idulfitri 2026? Ini Jadwal Penetapan 1 Syawal 1447 H

Kapan Sidang Isbat Idulfitri 2026? Ini Jadwal Penetapan 1 Syawal 1447 H

19 Maret 2026

EDITOR'S PICK

Cara tetap produktif saat mudik lebaran

Pentingnya Bawa Laptop Saat Mudik: Ini Manfaatnya Untuk Pekerja Remote

13 Maret 2026
Daftar Universitas Terbaik di Jakarta Versi EduRank 2026

Daftar Universitas Terbaik di Jakarta Versi EduRank 2026

21 Februari 2026
Rekomendasi Toko Buket dan Hampers Lebaran Terbaik di Banda Aceh 2026

Rekomendasi Toko Buket dan Hampers Lebaran Terbaik di Banda Aceh 2026

4 Maret 2026
10 Dokter Kandungan Terbaik di Bandung, Terpercaya dan Berkualitas

10 Dokter Kandungan Terbaik di Bandung, Terpercaya dan Berkualitas

22 Februari 2026

About

We bring you the best Premium WordPress Themes that perfect for news, magazine, personal blog, etc. Check our landing page for details.

Follow us

Kategori

  • Bansos
  • Beasiswa
  • Berita
  • BPJS Kesehatan
  • BPJS Ketenagakerjaan
  • CPNS
  • Ekonomi
  • Hiburan
  • Info
  • Kesehatan
  • KUR
  • Pendidikan
  • PPPK
  • Saldo Dana
  • Tips dan Panduan

Recent Posts

  • 12+ Rekomendasi Wisata di Malang untuk Libur Lebaran 2026, Seru untuk Semua Usia!
  • Jam Operasional dan Harga Tiket Solo Safari Saat Lebaran 2026, Cek Info Terbarunya
  • Melahirkan Normal Tanpa Jahit: 5 Tips Ampuh Agar Persalinan Lebih Nyaman
  • 10 Tempat Wisata Solo Terbaik untuk Libur Lebaran 2026, Wajib Masuk Wishlist!
  • Buy JNews
  • Landing Page
  • Documentation
  • Support Forum

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.