Berbicaralah dengan perkataan yang baik dalam hal kebaikan dan rendahkan suaramu di dalam berbicara. Dengarkanlah dengan saksama kepada orang yang berbicara kepadamu dengan perhatian yang penuh serta jangan memotong pembicaraannya dan jangan mendahului orang yang lebih tua dalam berbicara.
Ucapan yang Baik dalam Islam
Perkataan atau ucapan yang baik itu merupakan ucapan yang suci yang selamat dari kekejian atau kekotoran didalam berbicara serta berisi didalamnya pembicaraan perkara-perkara yang baik serta sesuai dengan anjuran syariat dan sebuah lingkungan atau adat yang tidak bertentangan dengan syariat. Maka sebaik-baiknya ucapan atau perkataan adalah pembicaraan yang menyerukan manusia untuk beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala serta menyerukan mereka untuk kembali kepada Agama mereka yakni Agama Islam yang sesuai dengan tuntunan Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam.
Sebagaimana firman Allah Ta’ala,
وَمَنْ اَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّنْ دَعَآ اِلَى اللّٰهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَّقَالَ اِنَّنِيْ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ
“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan kebajikan, dan berkata, “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri)?” (QS. Fussilat : 33)
Pada ayat ini menunjukkan kepada kita bahwasanya perkataan atau ucapan seseorang didalam menyerukan manusia kepada Allah Azza Wa Jalla adalah sebaik-baik ucapan dan juga dijelaskan didalam hadist Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam,
مَن كانَ يُؤْمِنُ باللَّهِ والْيَومِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا، أوْ لِيصْمُتْ
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia berbicara dengan perkataan yang baik atau diam” (HR. Bukhari)
Oleh karena itu hendaknya seseorang jika ingin berbicara kepada orang lain untuk berfikir berkali-kali terhadap ucapan yang akan dikeluarkan dari lisannya dan jika tidak maka hendaknya orang tersebut diam dan tidak ikut angkat suara didalam hal tersebut dikarenakan lisan seorang insan itu seperti sebuah pisau bermata dua yang mana itu dapat mendatangkan manfaat atau bahkan sebaliknya dapat memberikan kemudharatan kepada yang berbicara maupun orang yang menjadi lawan bicaranya. Maka dari itu senantiasa kita untuk menjaga lisan kita didalam berbicara sebagaimana yang disebutkan oleh Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam pada hadist tersebut.
Merendahkan Suara dan Tidak Tergesa-gesa Saat Berbicara
Selain itu, kita juga diperintahkan untuk senantiasa merendahkan suara kita tatkala bebicara dengan lawan bicara kita. Dan termasuk perkara yang penting yang hendak kita perhatikan juga dalam adab ketika berbicara adalah tidak terlalu cepat didalam menyampaikan suatu perkara atau tatkala berbicara dikarenakan ini termasuk dari sunnah Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam agar apa yang disampaikanya tidak terlewat oleh lawan bicaranya dan juga hendaknya seseorang tatkala berbicara agar tidak tergesa-gesa supaya dapat dipahami dengan baik oleh lawan bicara kita. Manfaat dari hal ini diantaranya,
- Pemahaman yang lebih baik: Lawan bicara dapat memahami dengan jelas apa yang disampaikan karena informasi yang diberikan telah dipertimbangkan dengan matang.
- Kejelasan maksud: Tujuan dan maksud dari pembicaraan dapat lebih mudah dipahami oleh lawan bicara, sehingga komunikasi menjadi lebih efektif.
Adab Berbicara dalam Islam
Memusatkan Perhatian Saat Mendengarkan (Al-Inshat)
Dan tatkala ada seseorang yang mengajak kita berbicara maka termasuk dari adab yang hendak kita perhatikan adalah Al-Inshad atau memusatkan pendengaran dan hati ketika diajak berbicara oleh lawan bicara kita.Hal ini sebagaimana yang dijelaskan oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya, yang mengajarkan kita untuk mendengarkan dengan penuh perhatian dan rasa hormat.
.وَإِذَا قُرِئَ ٱلْقُرْءَانُ فَٱسْتَمِعُوا لَهُۥ وَأَنصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
“Dan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat Rahmat. (Al-Araf:204)
Maka didalam ayat diatas Allah Subhanahu Wa Ta’ala membedakan antara Al-Inshad dengan Al-Istima’ yang mana maknanya sama-sama mendengarkan akan tetapi Al-Inshad itu mendengarkan dengan seksama dan dalam keadaan diam tatkala seseorang berbicara kepadanya.
Sikap seperti ini adalah kebiasaan para ulama terdahulu. Mereka selalu memberikan perhatian penuh saat diajak berbicara oleh orang lain. Hal ini sebagaimana yang diriwayatkan dari Atha bin Abi Rabbah yang menggambarkan bagaimana para ulama dahulu menjaga adab dalam mendengarkan pembicaraan dengan penuh kesungguhan dan rasa hormat.
إن الرجل ليحدثني بالحديث فأنصت له كأن لم أسمعه قط وقد سمعته قبل أن يولد
“Sesungguhnya seseorang pernah berbicara kepadaKu dengan sebuah pembicaraan, Maka aku diam dan mendengarkan orang tersebut seakan-akan aku belum pernah mendengar apa yang disampaikan olehnya sebelumnya padahal sesungguhnya aku telah mendengarkan ucapan tersebut sebelum dia dilahirkan didunia”
Menghadap Lawan Bicara dan Menjaga Pandangan
Dan termasuk ada didalam berbicara adalah menghadap kepada orang yang sedang diajak bicara serta tidak memalingkan wajah darinya ketika dia sedang berbicara atau menyampaikan sesuatu. Maka ini termasuk penghormatan kepadanya dengan mengarahkan badan kita dan wajah kita kepada orang yang sedang berbicara dikarenakan ini merupakan hak dirinya serta menjaga kecintaan orang tersebut didalam berbicara.
Selain itu para penuntut ilmu hendaknya memperhatikan adab ketika berada di hadapan guru yang menyampaikan ilmu. Salah satu bentuk adab tersebut adalah dengan menunjukkan sikap penuh perhatian dan rasa butuh terhadap ilmu yang diajarkan. Sikap seperti ini akan membuat hati guru merasa dihargai dan semakin bersemangat dalam mengajar. Sebaliknya, jika seorang penuntut ilmu menunjukkan sikap acuh, seperti memalingkan pandangan atau tubuhnya, seolah-olah tidak membutuhkan ilmu yang disampaikan, hal itu dapat menyakiti perasaan guru dan mengurangi semangatnya dalam mengajar.
Tidak Memotong Pembicaraan Orang Lain
Dan termasuk dari bagian ada ketika berbicara adalah hendaknya seseorang tidak memutus pembicaraan orang yang sedang berbicara. Maka hal ini mengajarkan kepada kita agar kita menjadi pendengar yang baik sebagaimana itu berlaku juga kepada diri kita tatkala berbicara bersama yang lainnya. Selain itu hendaklah seseorang juga menunggu orang yang sedang berbicara tersebut selesai berbicara atau menyampaikan hajatnya kepada kita. Ada sebuah nasihat yang disampaikan oleh Al-Imam Hasan Al-Bashriy,
إذا جالست فكن على أن تسمع أحرص منك على أن تقول ,وتعلم حسن الاستماع كما تتعلم حسن القول ,ولا تقطع على أحد حديثه
“Apabila engkau sedang duduk berbicara dengan orang lain, hendaknya engkau bersemangat mendengar melebihi semangat engkau berbicara. Belajarlah menjadi pendengar yang baik sebagaimana engkau belajar menjadi pembicara yang baik. Janganlah engkau memotong pembicaraan orang lain.” (Al-Muntaqa:72)
Dalam berbicara, seseorang hendaknya tidak mendahului orang yang lebih tua atau lebih berilmu, karena syariat Islam mengajarkan untuk menghormati hak mereka. Mengutamakan orang yang lebih besar dalam berbicara adalah bagian dari adab yang disyariatkan terutama ketika ada dua orang yang ingin menyampaikan ilmu atau informasi yang sama. Dalam hal ini, yang lebih muda hendaknya memberi kesempatan terlebih dahulu kepada yang lebih tua. Namun, jika orang yang lebih tua memberikan izin kepada yang lebih muda untuk berbicara terlebih dahulu maka hal itu tidak mengapa.
Adapun jika pembahasan yang disampaikan berbeda maka tidak masalah jika keduanya berbicara secara bersamaan.
Dan yang dimaksud dengan “besar atau tua” dalam konteks ini dapat dilihat dari dua aspek:
- Kedudukan, meskipun orang tersebut lebih muda usianya.
- Usia, yaitu seseorang yang lebih tua dibandingkan yang lain.
tatkala seorang hamba diperintahkan untuk mendahulukan orang yang lebih tua ketika berbicara dan dilarang mendahuluinya ini sebagai bentuk penghormatan terhadap hak mereka. Dari pembahasan ini dapat disimpulkan bahwa seorang penuntut ilmu harus menjaga adab ketika berbicara di hadapan ulama dan tidak mendahului mereka karena hal itu merupakan hak ulama. Selain itu, para penuntut ilmu sebaiknya mencukupkan diri dengan mendengarkan ulama yang berbicara dalam perkara agama dikarenakan merekalah yang bertanggung jawab dalam menjelaskan syariat dan menegakkan hak-hak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan ketika terjadi fitnah atau masalah kontemporer di sekitar penuntut ilmu maka cukup baginya untuk diam dan mengikuti apa yang telah dijelaskan atau disampaikan para ulama terkait hal tersebut
Kesimpulan
Menjaga adab dalam berbicara adalah salah satu cerminan akhlak seorang Muslim. Baik dalam memilih kata, intonasi suara, hingga menghormati orang lain dalam diskusi, semuanya menunjukkan kesempurnaan iman dan kemuliaan pribadi. Terutama bagi penuntut ilmu, menjaga lisan dan adab dalam majelis adalah pintu terbuka menuju keberkahan ilmu.
Sumber
https://d1.islamhouse.com/data/id/ih_articles/chain/selection_of_etiquettes_shareeah/id_26_etiquettes_shareeah.pdf

















