Idul Fitri yang jatuh pada 1 Syawal memiliki posisi khusus dalam Islam sebagai hari kemenangan setelah umat Muslim menjalankan ibadah puasa Ramadan selama sebulan penuh.
Bulan Syawal hadir sebagai momen untuk meningkatkan spiritualitas dan melanjutkan amal kebaikan. Oleh karena itu, penting bagi umat Islam untuk mengenal berbagai amalan sunnah yang dianjurkan setelah Idul Fitri.
Menurut Buku Amalan Sesudah Bulan Ramadhan karya Sukamto HM, kata “Syawal” berasal dari kata syala, yang berarti “meningkat” atau “diangkat”.
Hal ini melambangkan peningkatan spiritual setelah sebulan menjalankan puasa Ramadan. Lebih luas, Syawal dimaknai sebagai bulan untuk menjaga konsistensi dalam melakukan kebaikan dan menerapkan nilai-nilai ibadah yang telah dilatih selama Ramadan.
Dimulai dengan Hari Raya Idul Fitri pada tanggal 1 Syawal, momen ini bukan hanya waktu untuk merayakan kemenangan dan kebahagiaan, tetapi juga waktu yang tepat untuk melaksanakan amalan sunnah yang dianjurkan.
Bulan Syawal menjadi kesempatan bagi umat Islam untuk mempertahankan dan meningkatkan kualitas ibadah setelah Ramadan.
Dilansir dari Liputan6 amalan sunnah di bulan Syawal dapat dilakukan mulai dari setelah salat Idul Fitri pada 1 Syawal, kemudian berlanjut pada 2 Syawal dan seterusnya.
Penting dicatat bahwa 1 Syawal memiliki kekhususan sebagai hari raya, sehingga berpuasa pada hari tersebut tidak diperbolehkan.
Amalan Sunnah Setelah Idul Fitri
Menjalin Silaturahim dan Saling Meminta Maaf
Silaturahim pada Hari Raya Idul Fitri merupakan sunnah Nabi Muhammad SAW untuk memperkuat persaudaraan dan memperkokoh ukhuwah Islamiyah.
Badruddin Al-‘Aini dalam ‘Umdatul Qari Syarh Shahihil Bukhari menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW memilih jalan berbeda saat pergi dan pulang hari raya untuk mengunjungi kerabat hidup maupun yang telah meninggal.
Al-Qur’an menekankan pentingnya menjaga hubungan baik dengan keluarga dalam Surat An-Nisa ayat 1 dan Surat Ar-Ra’du ayat 21. Dalam At-Targhib wat Tarhib minal Haditsis Syarif, Al-Imam Zakiyuddin Abdul Azhim Al-Mundziri menyebutkan hadits:
“Dari Abu Hurairah RA, dari Nabi Muhammad SAW ia bersabda, ‘Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya. Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia menjaga hubungan baik dengan kerabatnya. Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam’.” (HR Bukhari dan Muslim)
Hikmah silaturahim dijelaskan dalam hadits riwayat Anas bin Malik RA:
“Dari sahabat Anas bin Malik RA, aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Siapa saja yang senang diluaskan rezekinya dan ditangguhkan ajalnya, hendaklah ia menjaga hubungan baik dengan kerabatnya’.” (HR Bukhari dan Muslim)
Menurut Ibnu Hajar Al-Asqalani, urutan silaturahim dimulai dari kerabat mahram, kemudian kerabat non-mahram, sahabat, mertua, dan seterusnya.
Muhammad bin ‘Alawi Al-Maliki menambahkan bahwa berziarah ke kuburan orang tua dan keluarga juga termasuk bentuk silaturahim setelah mengunjungi kerabat yang masih hidup.
Memberikan Ucapan Selamat (Tahniah)
Mengucapkan selamat pada hari raya merupakan amalan dianjurkan dalam Islam. Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Al-Fatawa menjelaskan:
“Ucapan pada hari raya, di mana sebagian orang mengatakan kepada yang lain jika bertemu setelah shalat Ied: ‘Taqabbalallahu minnaa wa minkum'”
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani menyebutkan bahwa para sahabat Nabi SAW biasanya mengucapkan:
“تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ”
Latin: “Taqabbalallahu minna wa minkum.”
Artinya: “Semoga Allah menerima (amal ibadah) kami dan kalian.”
Ucapan ini sekaligus menjadi doa agar amal ibadah selama Ramadan diterima oleh Allah SWT dan mempererat ukhuwah antar Muslim.
Mengunjungi Tempat Ramai dan Hiburan Positif
Rasulullah SAW pernah mengajak Aisyah RA untuk menyaksikan hiburan yang baik pada hari raya. Hal ini menunjukkan bahwa umat Islam diperbolehkan mengunjungi tempat keramaian dengan hiburan yang positif, sebagai ungkapan syukur dan kegembiraan di hari kemenangan.
Amalan ini menekankan keseimbangan antara ibadah dan kebahagiaan yang diperbolehkan, selama tetap sesuai syariat.
Mendengarkan Khutbah Idul Fitri
Setelah salat Id, umat Islam disunnahkan untuk duduk dan mendengarkan khutbah sebelum meninggalkan masjid. Hadits dari Ibnu Abbas RA menyebutkan:
“Saya melaksanakan shalat id bersama Rasulullah SAW, Abu Bakar, Umar, dan Utsman RA. Semuanya melaksanakan shalat sebelum khutbah berlangsung.” (Muttafaq ‘alaih)
Dalam hadits lain disebutkan:
“Sesungguhnya Nabi SAW berdiri pada hari Idul Fitri, kemudian memulai shalatnya, lalu berkhutbah.” (HR Bukhari)
Tata cara khutbah Id dianjurkan dua kali, dengan jeda duduk di antara keduanya:
“Sunnah seorang Imam berkhutbah dua kali pada shalat hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha), dan memisahkan kedua khutbah dengan duduk.” (HR Asy-Syafi’i)
Puasa Enam Hari di Bulan Syawal
Puasa enam hari di bulan Syawal termasuk amalan sunnah utama. Hadits shahih riwayat Imam Muslim menjelaskan:
“Barang siapa yang berpuasa Ramadan, kemudian diikuti dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa sepanjang tahun.” (HR. Muslim no. 1164)
Imam An-Nawawi menekankan bahwa puasa ini mengajarkan keberlanjutan amal shaleh pasca Ramadan. Puasa bisa dilakukan berturut-turut atau terpisah sepanjang bulan Syawal.
Menjaga Konsistensi dalam Kebaikan
Bulan Syawal menjadi momentum untuk mempertahankan semangat ibadah setelah Ramadan. Puasa sunnah dan amalan baik lainnya di bulan ini membantu menjaga kualitas spiritual dan melanjutkan amal kebaikan yang sudah dilatih selama Ramadan.
Mempererat Tali Silaturahim
Silaturahim tetap menjadi amalan utama di bulan Syawal, terutama setelah Idul Fitri. Rasulullah SAW bersabda:
“Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia menyambung tali silaturahmi dengan kerabatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Syaikh Sulaiman bin Muhammad al-Bujairimi al-Syafi’i menyebutkan 10 keutamaan silaturahim, termasuk: mendapatkan ridha Allah, menambah keberkahan umur dan rezeki, membahagiakan keluarga, menyusahkan hati Iblis, dan memperoleh pahala setelah wafat. Kitab Al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah menegaskan bahwa menjaga silaturahim hukumnya wajib, sedangkan memutuskannya termasuk dosa besar.
Kesimpulan
Setelah Idul Fitri di bulan Syawal, umat Islam dianjurkan menjalankan amalan sunnah seperti bersilaturahim, saling memaafkan, mengucapkan selamat, menghadiri hiburan positif, mendengarkan khutbah Id, berpuasa enam hari, dan menjaga konsistensi kebaikan untuk meningkatkan spiritualitas pasca Ramadan.
Sumber Referensi
https://www.liputan6.com/islami/read/6293096/7-amalan-sunnah-setelah-idul-fitri-di-bulan-syawal-penjelasan-dan-pelaksanaanya










