Sebelum Islam datang, orang-orang Arab sangat amat terbelakang, tradisi khurafat dan mistik demikian marak dalam kehidupan. Bangsa Arab kala itu terdiri dari banyak suku dan kerap saling bertikai antara satu dengan yang lain.
Dalam kondisi ini sangat dimaklumi tradisi pencarian dan pengembangan ilmu pengetahuan tidak terlihat tumbuh dan berkembang. Datangnya agama Islam sebagaimana dibawa oleh Nabi Muhammad Saw adalah anugerah luar biasa bagi bangsa Arab. Al-Qur’an dalam konstruksi universalnya mampu merubah seluruh tatanan kehidupan manusia menjadi lebih cerah.
Tatanan kehidupan yang penuh nilai-nilai luhur Islam ini, yang telah di praktikkan oleh baginda Nabi Muhammad Saw dan para sahabat, selanjutnya mampu menebarkan cahayanya ke segenap penjuru jazirah Arab. Dalam batas ini, betapapun tradisi pengkajian ilmu belum terbilang mapan, namun setidaknya upaya terhadap pencarian dan pengembangan ilmu mendapat apresiasi dan perhatian maksimal dari al-Qur’an (Islam).
Al-Qur’an dan Sains
Pada sejumlah ayat-ayatnya, al-Qur’an senantiasa mengapresiasi pengkajian terhadap berbagai hal yang berhubungan dengan alam semesta. Dimana perenungan dan pengkajian terhadap alam semesta sejatinya merupakan bagian dari upaya pengokohan keimanan.
Dalam penjabarannya, al-Qur’an memang tidak memberi rincian secara detail mengenai berbagai fenomena alam yang ada, hal ini memberi pengertian (hikmah) agar manusia senantiasa mengoptimalkan akal fikiran yang dianugerahkan Allah kepada manusia.
Karena itu, al-Qur’an sangat banyak memberi stimulus (rangsangan) bagi kemajuan ilmu pengetahuan. Dalam Q. 25: 53 misalnya dijelaskan mengenai fenomena dua laut yang airnya saling tidak bertemu (bercampur), yang dalam penelitian terkini diketahui bahwa dua jenis air ini memiliki perbedaan kadar garam dan kerapatan yang berbeda-beda, zona pemisah kedua air ini disebut ‘pycnocline’.
Pada bidang yang lain, misalnya dalam Q. 67: 19 dikemukakan mengenai burung-burung yang terbang dan mengatupkan sayap-sayapnya, hal ini memberi isyarat ilham ditemukannya teknologi pesawat terbang.
Kesimpulan
Adnan Syarif dalam karyanya “Min ‘Ilm al-Falak al-Qur’any”, bahwa terdapat banyak sekali ayat-ayat yang menjadi landasan berbagai cabang ilmu, diantaranya adalah dasar-dasar ilmu astronomi. Dalam Q. 03: 190-191 dikemukakan mengenai seruan kepada umat Islam untuk merenungi ciptaan Allah baik di bumi maupun di langit. Perenungan dan pengamatan terhadap benda-benda langit sejatinya memang telah dilakukan oleh umat-umat (bangsa-bangsa) terdahulu.
Tradisi mengamati benda-benda langit mengenai terbit dan tenggelam, perubahan posisi dan konstelasi benda-benda langit merupakan rutinitas yang rutin dilakukan. Dalam praktiknya, selain bertujuan untuk kepentingan soisal sehari-hari, rutinitas pengamatan ini juga bertujuan dalam rangka memprediksi dan memosisikan benda-benda di langit sana dan menghubungkannya dengan kejadian di bumi, atau persisnya meramal nasib (karakter) seseorang maupun sekelompok orang di masa yang akan datang.










