Hasil pengamatan hilal awal Syawal 1447 Hijriah di Provinsi Sumatera Utara menunjukkan bahwa posisi bulan sabit muda sebenarnya sudah berada di atas ufuk. Namun, secara teknis hilal tersebut belum memenuhi kriteria visibilitas yang ditetapkan, sehingga belum dapat dipastikan terlihat secara optimal.
Berdasarkan laporan Tim Hisab Rukyat Provinsi Sumatera Utara pada Kamis, 19 Maret 2026, pengamatan dilakukan di Anjungan Kantor Gubernur Sumut, Medan. Dalam hasil tersebut, hilal dinyatakan sudah wujud, tetapi belum memenuhi standar imkan rukyat.
Data pengamatan menunjukkan, matahari terbenam pada pukul 18.37.01 WIB, sementara bulan terbenam pada pukul 18.50.27 WIB. Dengan demikian, waktu pengamatan hilal hanya berlangsung sekitar 13 menit setelah matahari terbenam.
Ketinggian hilal tercatat berada di angka 2 derajat 57 menit 5,58 detik di atas ufuk mar’i. Selain itu, elongasi bulan geosentris mencapai 5 derajat 59 menit 34,04 detik. Angka tersebut masih berada di bawah kriteria minimum MABIMS yang mensyaratkan tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat.
Dari sisi umur bulan, sejak ijtimak hingga waktu matahari terbenam tercatat sekitar 10 jam lebih. Meski secara astronomis hilal sudah ada, kondisi tersebut dinilai belum cukup kuat untuk memastikan hilal dapat diamati secara kasat mata.
Fenomena ini juga terjadi di berbagai wilayah Indonesia. Meski terdapat variasi ketinggian hilal dari timur hingga barat, seluruhnya belum memenuhi kriteria visibilitas yang disepakati negara-negara MABIMS, yakni Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura.
Dengan kondisi tersebut, awal Syawal 1447 Hijriah secara hisab diperkirakan jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026 melalui metode istikmal atau penyempurnaan bulan Ramadan menjadi 30 hari.
Namun demikian, keputusan resmi terkait penetapan Hari Raya Idulfitri tetap menunggu hasil sidang isbat yang akan diumumkan pemerintah pusat melalui Kementerian Agama RI.


Komentar