Penelitian mengenai instrumen astronomi dalam peradaban Islam terus berkembang melalui kajian terhadap berbagai manuskrip klasik. Salah satu penelitian penting dilakukan oleh Osama Fathi pada tahun 2014. Ia meneliti naskah-naskah yang berkaitan dengan instrumen astronomi yang tersimpan di Dar al-Kutub al-Mishriyyah. Penelitian tersebut menggunakan daftar manuskrip yang terdapat dalam katalog Fihris al-Makhthūthāt al-‘Ilmiyyah (Katalog Manuskrip Sains) yang disusun oleh David A. King. Kajian ini dibatasi pada periode antara abad ke-8/14 hingga abad ke-14/20 dan bertujuan untuk mengklasifikasikan jenis serta jumlah instrumen astronomi yang disebutkan dalam berbagai manuskrip pada setiap abad.
Naskah Instrumen Astronomi
Dari hasil penelusuran tersebut, Fathi menemukan sedikitnya 1001 naskah yang membahas instrumen astronomi. Dari jumlah tersebut, 605 naskah berhasil diidentifikasi karena diketahui penulis dan waktu penulisannya, sedangkan 396 naskah lainnya belum diketahui secara pasti informasi pengarang maupun tanggal penulisannya. Berdasarkan analisis terhadap manuskrip-manuskrip tersebut, Fathi kemudian mengelompokkan instrumen astronomi ke dalam tujuh klasifikasi utama yang masing-masing mencakup beberapa jenis alat dengan fungsi yang berbeda.
Klasifikasi Instrumen Astronomi
Klasifikasi pertama adalah al-ālāt al-kurawiyyah atau instrumen berbentuk bola. Instrumen dalam kelompok ini memiliki bentuk menyerupai bola dan digunakan untuk menggambarkan struktur langit atau koordinat benda-benda langit. Contohnya adalah al-kurrah (bola langit), dzāt al-halq (lingkaran), astrolabe bundar, dan al-ālah asy-syāmilah yang merupakan instrumen komprehensif.
Klasifikasi kedua adalah ālāt at-tasthīh atau instrumen datar. Instrumen ini biasanya berbentuk bidang datar yang digunakan untuk berbagai perhitungan astronomi. Contohnya meliputi astrolabe datar, rub’ al-muqantharāt, rub’ al-kāmil, rub’ al-hilāly, tsumun ad-dā’irah, dan al-musātirah.
Klasifikasi ketiga adalah instrumen kuartal aritmetika segitiga bola, yang digunakan untuk perhitungan trigonometri astronomi. Instrumen yang termasuk dalam kategori ini antara lain rubu mujayyab, rub’ al-mujannah, al-jaib al-ghā’ib, rub’ at-tāmm, dan al-murabba’ah.
Klasifikasi keempat adalah instrumen komprehensif untuk semua lintang, yaitu alat yang dapat digunakan di berbagai wilayah geografis dengan lintang yang berbeda. Contohnya adalah zarqalah, syakāziyah, instrumen universal, muqantharāt khath al-istiwā’, rub’ asy-syakāzy, rub’ al-jāmi’, dan instrumen yang dikembangkan oleh Ibn Saraj.
Klasifikasi kelima adalah instrumen observasional (ālah ar-rashd) yang digunakan secara langsung dalam kegiatan pengamatan astronomi, seperti dzāt asy-syu’batain, al-mistharatain, al-birkār at-tāmm, ālah al-ab’ad, dan ash-shafīhah al-qamariyyah.
Klasifikasi keenam adalah instrumen penentu arah kiblat, yang membantu menentukan arah Ka’bah dari berbagai lokasi, seperti dā’irah al-mu’addal, dā’irah al-mahārīb, bait al-ibrah (kompas), dan al-muqawwar.
Klasifikasi terakhir adalah al-mazāwil atau mizwala (jam matahari), yang digunakan untuk menentukan waktu berdasarkan bayangan Matahari. Klasifikasi ini menunjukkan keragaman fungsi instrumen astronomi dalam mendukung kegiatan ilmiah sekaligus praktik keagamaan dalam peradaban Islam.










