Di peradaban Islam, pengamatan alam (langit) ditujukan untuk perenungan akan kekuasaan dan ciptaan Allah, betapa benda-benda angkasa tidak mungkin diciptakan oleh manusia. Selain itu, aktifitas pengamatan benda-benda langit untuk kepentingan peramalan ini dalam peradaban Islam sejatinya telah mulai terkikis, meski tidak habis, sebab al-Qur’an secara tegas melarang hal ini. Selain itu, Nabi Muhammad Saw juga menyatakan ketidak legalan aktifitas astrologi ini. Nabi Saw menyatakan bahwa orang-orang yang mendatangi dan memercayai perkataan seorang peramal maka sesungguhnya ia telah mengingkari akan risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw.
Ayat-Ayat Alam Raya
Dalam Q. 36: 38-40, Q. Al-A’raf: 54, Q. Az-Zumar: 5, Q. Al-Anbiya’: 33 dikemukakan mengenai fenomena pergerakan benda-benda langit, khususnya bulan, bumi dan matahari. Sementara Q. An-Nazi’at: 31-32, Q. Al-Anbiya’: 30, Q. An-Nahl: 15, Q. Al-Baqarah: 29, masing-masing memberi gambaran umum mengenai teori awal mula alam semesta. Sementara Q. 18: 25 dimaknai sebagai perbandingan antara kalender Hijriah yang berbasis bulan dengan kelender Masehi yang berbasis matahari. Dalam ayat ini terdapat frasa “…tsalatsa mi’atin wazdadu tis’a” (…tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun). Menurut sebagian ahli tafsir, penambahan sembilan tahun ini adalah akibat perbedaan penanggalan matahari dan bulan. Dimana kalender matahari atau kalender masehi ini berselisih sekitar 11 hari dari kalender bulan (hijriah), dengan demikian tambahan sembilan tahun itu adalah hasil akumulasi 300 tahun dikali 11 hari = 3.300 hari, atau sekitar sembilan tahun lamanya. Atas penafsiran ini, difahami bahwa sesungguhnya al-Qur’an mengapresiasi penggunaan dua sistem kalender ini dalam penjadwalan waktu.
Sejatinya masih ada banyak lagi ayat-ayat yang membicarakan alam raya yang jika dielaah akan sangat berkaitan dengan ilmu pengetahuan. Seperti dikemukakan oleh para mufasir, ayat-ayat kauniyah (diantaranya ayat-ayat tentang alam raya) memiliki dimensi yang berbeda jika ditelaah oleh penafsir, demikian lagi memiliki sisi dan keunikan tersendiri jika dikaji dari berbagai perspektif, itulah keunggulan dan keunikan al-Qur’an.
Kesimpulan
Demikianlah, melalui ayat-ayat ini umat Islam, khususnya ulama yang mendalami bidang ini, menghasilkan inspirasi dan penemuan yang terus diperbarui. Berbagai penemuan ini selain mengokohkan keimanan, pada saat yang sama ia memberi sumbangan baru bagi kemajuan ilmu pengetahuan. Karena itu, posisi strategis al-Qur’an menempati posisi teramat penting bagi berkembangnya ilmu pengetahuan di peradaban Islam.










