Penguatan dolar dipacu meningkatnya ketidakpastian konflik Iran. Laporan Axios menyebut Pentagon menyiapkan opsi militer untuk “serangan pamungkas” jika diplomasi gagal dan Selat Hormuz tetap tertutup.
Ancaman eskalasi ini menekan pasar saham global, memicu arus modal beralih ke aset aman seperti dolar AS. Selain itu, dukungan negara-negara Timur Tengah terhadap langkah Amerika, seperti akses militer AS di Pangkalan Udara Raja Fahd dan penutupan fasilitas milik Iran di UEA, semakin menambah kecemasan pasar.
Dolar mendapat tambahan tenaga setelah laporan klaim pengangguran Amerika menunjukkan pasar tenaga kerja masih solid. Klaim awal naik sedikit menjadi 210.000, sesuai ekspektasi, namun klaim lanjutan turun ke level terendah 1,75 tahun di 1,819 juta.
Data tersebut memberi sinyal bahwa ekonomi AS tetap kuat, sehingga memperkecil peluang Federal Reserve menurunkan suku bunga dalam waktu dekat. Pasar swaps kini memperkirakan peluang 6% untuk kenaikan suku bunga pada FOMC 28–29 April, sementara penurunan suku bunga diprediksi baru terjadi di tahun 2026.
Lonjakan Harga Minyak Tekan Emas dan Perak
Harga minyak mentah yang melonjak hingga 4% memicu ekspektasi inflasi lebih tinggi. Ekspektasi ini berpotensi membuat bank sentral mempertahankan kebijakan ketat lebih lama, kondisi yang cenderung negatif bagi logam mulia.
Emas COMEX ditutup anjlok 3,87%, sedangkan perak ambles lebih dari 6%. Tekanan semakin berat setelah muncul laporan bahwa bank sentral Turki menjual cadangan emas lebih dari 58,4 ton dalam dua minggu langkah yang mendorong aksi jual besar-besaran di pasar logam mulia. Likuidasi investor juga terlihat dari berkurangnya kepemilikan ETF emas ke level terendah 3,25 bulan dan ETF perak ke level terendah 6,25 bulan.
Euro dan Yen Tertekan oleh Dolar AS
Penguatan dolar membuat euro dan yen melemah. EUR/USD turun setelah indeks kepercayaan konsumen Jerman (GfK) merosot ke level terendah dua tahun di -28,0. Lonjakan harga energi turut membebani ekonomi zona euro yang masih bergantung pada impor minyak.
Yen juga terkoreksi karena harga minyak naik dan imbal hasil obligasi AS meningkat. Meski begitu, pelemahan yen masih tertahan oleh data PPI jasa Jepang yang naik 2,7%, di atas ekspektasi.
Meski logam mulia tertekan, permintaan bank sentral dunia tetap kuat. People’s Bank of China tercatat meningkatkan cadangan emasnya selama 15 bulan berturut-turut, menambah 40.000 ons pada Januari.
OECD juga menaikkan proyeksi inflasi G-20 2026 menjadi 4,0% dari 2,8%, meningkatkan prospek permintaan emas sebagai aset lindung nilai jangka panjang.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, penguatan dolar dipicu oleh kombinasi kekhawatiran geopolitik Iran, data tenaga kerja AS yang solid, lonjakan harga minyak, dan ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat. Dampaknya terasa luas, mulai dari penurunan harga logam mulia, pelemahan euro dan yen, hingga meningkatnya volatilitas pasar global. Situasi ini diproyeksikan berlanjut selama ketidakpastian geopolitik dan inflasi tetap tinggi.










