Belakangan ini, media sosial diramaikan oleh konten video yang memperlihatkan bayi atau anak kecil menari dengan gerakan lincah berkat bantuan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence). Fenomena ini memicu tanggapan kritis dari akademisi, salah satunya Prof. Yeni Herdiyani, Ketua Program Studi Kecerdasan Buatan IPB University.
Cara Kerja Generative AI dalam Konten Anak
Prof. Yeni menjelaskan bahwa teknologi yang digunakan adalah Generative AI (Gen-AI). Teknologi ini bekerja dengan cara menghasilkan data baru—baik berupa gambar, video, maupun suara—berdasarkan model yang sudah ada.
“Bayi dan dance adalah model yang sudah bisa dibuat oleh algoritma. Jika diberi informasi berupa foto riil, maka AI dapat membuat hasil secara otomatis yang tampak nyata,” jelasnya. Masalahnya, ketika orang tua mengunggah foto asli anak ke dalam aplikasi tersebut, foto itu bukan sekadar menjadi konten, melainkan menjadi data input.
Risiko Keamanan Data dan Privasi yang Mengintai
Ada beberapa risiko serius yang harus dipahami orang tua sebelum mengikuti tren ini:
- Penyalahgunaan Data: Sekali foto diunggah ke ruang publik atau masuk ke server aplikasi pihak ketiga, data tersebut dapat diakses oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
- Dataset untuk Pelatihan AI: Data yang diberikan kepada algoritma bisa digunakan untuk melatih model sebagai dataset. Artinya, wajah anak Anda berpotensi muncul dalam bentuk lain di masa depan tanpa izin Anda.
- Kelompok Rentan: Anak-anak adalah kelompok paling rentan dalam ekosistem digital karena mereka belum bisa memberikan persetujuan (consent) atas penggunaan data pribadi mereka.
Pentingnya Literasi Digital dan Etika
Merespons tren ini, IPB University secara konsisten menekankan pentingnya etika dalam penggunaan teknologi. Materi mengenai tanggung jawab penggunaan teknologi bahkan telah diberikan kepada mahasiswa baru sejak tingkat pertama melalui perkuliahan berpikir komputasional.
Tujuannya jelas: membentuk masyarakat yang tidak hanya mahir teknologi, tetapi juga kritis terhadap dampak sosial dan keamanan dari setiap inovasi yang ada.
Kesimpulan
Kreativitas digital memang menyenangkan, namun perlindungan terhadap privasi anak harus tetap menjadi prioritas utama. Sebelum mengunggah atau mengedit wajah anak menggunakan AI, tanyakan pada diri Anda: Apakah kepuasan sesaat mendapatkan “likes” sebanding dengan risiko keamanan jangka panjang anak saya? Jadilah orang tua yang cerdas digital dengan menjaga privasi keluarga sejak dini.
Sumber
https://www.ipb.ac.id/news/index/2026/02/hati-hati-ikut-tren-edit-wajah-anak-dengan-ai-pakar-ipb-university-ingatkan-risiko-ini/










