Penelitian yang dilakukan oleh Osama Fathi pada tahun 2014 memberikan kontribusi penting dalam memahami perkembangan instrumen astronomi dalam tradisi keilmuan Islam. Dengan menelusuri koleksi manuskrip di Dār al-Kutub al-Mishriyyah, ia berhasil mengklasifikasikan naskah-naskah yang membahas berbagai alat astronomi dari abad ke-8/14 hingga abad ke-14/20. Dari total 1001 naskah yang ditemukan, sebanyak 605 naskah diketahui penulis dan waktu penulisannya, sementara 396 lainnya tidak teridentifikasi secara lengkap. Klasifikasi ini memberikan gambaran sistematis tentang jenis instrumen serta fungsi ilmiahnya dalam praktik astronomi.
Klasifikasi
Klasifikasi pertama adalah al-ālāt al-kurawiyyah, yaitu instrumen berbentuk bola. Instrumen dalam kelompok ini, seperti al-kurrah dan astrolabe bundar, digunakan untuk merepresentasikan langit secara tiga dimensi. Fungsinya sangat penting dalam memahami posisi benda langit dan simulasi pergerakannya.
Kedua, ālāt at-tasthīh atau instrumen datar. Instrumen ini merupakan versi proyeksi dua dimensi dari model langit, seperti astrolabe datar dan berbagai jenis rubu’ (seperempat lingkaran). Fungsinya lebih praktis untuk pengukuran sudut, penentuan waktu, dan navigasi.
Ketiga, kelompok arba’ hisāb al-mutsallatsāt berkaitan dengan instrumen yang digunakan dalam perhitungan trigonometri bola. Alat-alat seperti rubu’ mujayyab dan murabba’ah membantu ilmuwan dalam menyelesaikan persoalan matematis yang berkaitan dengan posisi benda langit.
Keempat, al-ālāt asy-syāmilah li jāmī’ al-‘urudh mencakup instrumen universal yang dapat digunakan di berbagai lintang geografis. Contohnya adalah az-zarqalah dan alat universal lainnya. Fungsi utamanya adalah memberikan fleksibilitas dalam observasi tanpa tergantung lokasi tertentu.
Kelima, ālah ar-rashd merupakan instrumen observasional. Alat seperti dzāt asy-syu’batain dan al-birkār at-tāmm digunakan secara langsung untuk mengamati dan mengukur fenomena langit, seperti posisi bintang atau jarak sudut antar objek.
Keenam, ālah al-qiblah berfungsi untuk menentukan arah kiblat. Instrumen seperti kompas (bait al-ibrah) dan lingkaran mihrab sangat penting dalam praktik keagamaan umat Islam, khususnya untuk menentukan arah salat secara akurat.
Terakhir, al-mazāwil atau mizwala berkaitan dengan alat penunjuk waktu, seperti jam matahari. Instrumen ini memanfaatkan bayangan matahari untuk menentukan waktu harian.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, klasifikasi ini menunjukkan bahwa instrumen astronomi tidak hanya berfungsi untuk penelitian ilmiah, tetapi juga memiliki peran praktis dalam kehidupan sehari-hari, termasuk navigasi, penentuan waktu, dan kebutuhan religius.

