Esensi dan tujuan puasa sejatinya adalah takwa. Takwa sendiri secara sederhana adalah melaksanakan segenap perintah Allah Swt dan menjauhi segenap larangan-Nya. Puasa sendiri menjadi barometer keimanan seorang Muslim. Cobaan dan tantangan selama melaksanakan puasa menjadi standar seorang Muslim. Demikian lagi hati dan kejujuran seorang Muslim sangat diuji tatkala dan selama melaksanakan ibadah puasa Ramadhan.
Menurut Syahrin, oang yang bertakwa adalah orang yang beriman kepada yang gaib, melakukan salat, dan gemar berinfak. Takwa juga adalah mampu menunaikan infak baik ketika senang maupun ketika susah, lalu mampu melakukan jihad dalam makna kesediaan menjalankan segala aktifitas dengan sungguh-sungguh serta menghindarkan diri dari dominasi hawa nafsu dan pengaruh setan. Berikutnya takwa memiliki komitmen untuk mempersiapkan diri menghadapi masa depan (baca: Syahrin, 130). Melalui sejumlah hal (poin) ini dapat disimpulkan bahwa puasa Ramadhan sejatinya dapat dijadikan sebagai wadah pembinaan sikap progresif dan proporsional, yang menyebabkan ibadah ini dipandang sebagai kebutuhan manusia modern, bukan hanya bersifat spiritual, melainkan juga material dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Kaitan Puasa dan Takwa
Puasa dan takwa adalah dua hal yang terkait dan amat melekat. Bagi setiap Muslim, puasa merupakan kewajiban yang mesti dilaksanakan, selama telah memenuhi syarat dan ketentuan yang berlaku dalam syariat (fikih). Saat yang sama, puasa yang dilakukan, selama Ikhlas karena Allah dan memenuhi syarat dan ketentuan yang ada dalam fikih islam, maka secara pasti akan membentuk dan melahirkan insan yang Tangguh dan bertakawa kepada Allah Swt.
Dengan demikian peran strategis ibadah puasa misi utamanya adalah imsak (yaitu menahan diri) dari kata, laku dan perilaku yang dapat merusak sendi-sendi kehidupan bermasyarakat maupun berbangsa dan ber-agama. Ibadah puasa selain sebagai pengabdian kepada Allah Swt juga merupakan media yang dapat digunakan untuk meningkatkan aktivitas dan kualitas hidup seorang Muslim. Pada saat yang sama puasa merupakan instrumen yang digunakan Islam untuk mengendalikan manusia dalam mengeluarkan statemennya agar apapun yang diucapkannya harus dapat dipertanggung jawabkan serta memberi kontribusi bagi peningkatan kesalehan dan kohesi sosial.
Kesimpulan
Sekali lagi, puasa dan takwa adalah dua hal yang saling terkait dan saling melekat satu sama lain dalam kehidupan seorang Muslim. Seseorang yang berpuasa secara benar maka dipastikan ia adalah orang yang bertakwa kepada Allah Swt. Takwa sendiri menjadi standar kemuliaan seorang Muslim. Wallahu a’lam










