Info kesehatan mental yang tersebar di media sosial kini menjadi topik yang sangat populer. Namun, popularitas tidak selalu berbanding lurus dengan kebenaran.
Studi terbaru yang mengamati lebih dari 5.000 unggahan mengenai autisme, ADHD, depresi, hingga OCD mengungkapkan fakta yang mengejutkan: lebih dari 56 persen konten tersebut mengandung misinformasi.
Peneliti menemukan bahwa konten mengenai autisme dan ADHD adalah yang paling banyak mengandung kekeliruan, terutama di platform seperti TikTok. Mengapa? Karena video yang dikemas secara dramatis, emosional, dan menggunakan musik yang sedang tren cenderung lebih mudah viral. Padahal, informasi yang disampaikan sering kali terlalu menyederhanakan kondisi medis yang sebenarnya sangat kompleks.
Pesan Khusus untuk Orang Tua (Usia 50 Tahun ke Atas)
Bagi Bapak dan Ibu yang sering menerima kiriman video dari grup keluarga atau kerabat, sangat penting untuk tetap tenang dan kritis. Video yang terlihat meyakinkan dengan ribuan like bukan berarti video tersebut benar secara medis. Mengikuti saran kesehatan yang salah justru dapat memperburuk kondisi psikologis atau fisik anggota keluarga Anda.
Tips Agar Tidak Terkecoh Informasi Kesehatan di Medsos:
- Cek Profil Pembuat Konten: Apakah yang berbicara adalah seorang psikiater, psikolog klinis, atau dokter berlisensi? Hindari memercayai informasi dari akun anonim atau orang yang hanya “berbagi pengalaman pribadi” tanpa dasar medis.
- Waspadai Kata-Kata “Pasti” dan “Selalu”: Gangguan mental tidak bisa didiagnosis hanya dari satu atau dua ciri perilaku. Jika sebuah video menyebutkan “Jika Anda melakukan ini, Anda PASTI depresi,” besar kemungkinan itu adalah hoaks atau penyederhanaan yang keliru.
- Lihat Sumber Referensinya: Konten yang benar biasanya mencantumkan sumber riset atau jurnal medis yang jelas. Jika hanya berisi opini tanpa data, jangan jadikan acuan.
- Jangan Langsung “Share”: Sebelum membagikan informasi ke grup WhatsApp keluarga, tanyakan pada diri sendiri: “Apakah informasi ini berasal dari rumah sakit atau institusi kesehatan resmi?”
- Konsultasi Langsung ke Profesional: Media sosial adalah alat untuk mencari tahu, bukan alat untuk menyimpulkan. Jika Anda atau anak Anda merasa memiliki gejala tertentu, datanglah ke Puskesmas, Rumah Sakit, atau praktik psikolog terdekat untuk mendapatkan pemeriksaan resmi.
Kesimpulan
Media sosial bisa menjadi tempat yang baik untuk meningkatkan kesadaran (awareness) tentang kesehatan mental, namun ia bukanlah pengganti bangku kuliah kedokteran atau ruang praktik psikolog. Jangan biarkan algoritma yang haus akan klik menentukan kondisi kesehatan mental Anda. Mari menjadi pengguna internet yang bijak: lebih baik bertanya kepada ahlinya daripada menebak-nebak lewat layar gawai.










