Kenaikan harga minyak dunia akibat konflik geopolitik di Timur Tengah diperkirakan akan berdampak langsung pada harga bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia. Kondisi ini membuat harga BBM non-subsidi berpotensi mengalami penyesuaian mulai 1 April 2026.
Praktisi industri migas, Hadi Ismoyo, menilai kenaikan harga BBM pada periode ini sulit dihindari. Menurutnya, pemerintah kemungkinan besar akan menyesuaikan harga, khususnya untuk BBM non-subsidi seperti Pertamax.
Perkiraan Harga Pertamax Bisa Tembus Rp15.000–Rp17.000
Berdasarkan informasi yang dilansir dari laman liputan6, harga minyak mentah dunia naik dari sekitar USD 70 per barel menjadi USD 90 per barel. Kenaikan ini setara dengan sekitar 28 persen.
“Menurut keyakinan kami, jika merujuk pada kenaikan proporsional crude saat ini sekitar 28 persen (dari rata-rata USD 70 per barel menjadi USD 90 per barel), maka kenaikan Pertamax sekitar 28 persen maksimal,” jelasnya kepada Liputan6.com, Senin (30/3/2026).
Dengan asumsi harga awal Pertamax Rp 12.000 per liter, maka harga barunya diperkirakan mencapai sekitar Rp 15.360 per liter.
“Jika asumsi Pertamax harga awal Rp 12.000 (per liter), maka harga baru pada kisaran Rp 15.360 per satuan liter,” ujar Hadi.
Bahkan, jika harga minyak mentah rata-rata bulanan mencapai USD 100 per barel, kenaikan bisa lebih tinggi hingga 43 persen. Artinya, harga Pertamax berpotensi naik menjadi sekitar Rp 17.160 per liter.
“Jika USD 100 per barel monthly average, incremental-nya 43 persen. Cukup besar. Artinya harga Pertamax yang baru Rp 12.000 + (0,43 x 12.000) = Rp 17.160 per liter,” jelas dia.
Namun, ia menegaskan agar harga BBM subsidi seperti Pertalite tidak ikut dinaikkan karena dapat memberatkan masyarakat.
“Saya tidak merekomendasikan BBM subsidi Naik. Karena kondisi ekonomi yang masih berat. Daya beli masyarakat masih rendah,” kata Hadi.
Skenario Kenaikan Pertalite dan Solar Subsidi
Ekonom Hendry Cahyono menjelaskan bahwa jika harga minyak dunia berada di kisaran USD 85–USD 92 per barel, maka kenaikan harga BBM subsidi masih relatif terbatas.
Dalam skenario tersebut, harga Pertalite diperkirakan naik sekitar 5%–10% menjadi Rp 10.500 hingga Rp 11.000 per liter. Sementara itu, solar subsidi diprediksi naik ke kisaran Rp 7.150 hingga Rp 7.500 per liter.
Namun, jika harga minyak dunia menembus lebih dari USD 100 per barel dalam waktu lama, kenaikan harga BBM bisa lebih tinggi. Pertalite berpotensi naik hingga Rp 11.500–Rp 12.000 per liter, sedangkan solar bisa mencapai Rp 7.800–Rp 8.200 per liter.
Dalam kondisi ini, defisit APBN juga berisiko melewati batas aman 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
“Pada kondisi ini, defisit APBN bisa melampaui 3 persen atau sekitar 3,6 persen PDB jika tidak ada penyesuaian harga,” ujar Hendry.
Risiko ke APBN dan Daya Beli Masyarakat
Kenaikan harga minyak mentah tidak hanya berdampak pada BBM, tetapi juga pada beban negara. Setiap kenaikan USD 1 per barel diperkirakan menambah subsidi energi hingga Rp 10,3 triliun dan memperlebar defisit APBN sekitar Rp 6,8 triliun.
Di sisi lain, kebijakan kenaikan harga BBM juga berisiko menekan daya beli masyarakat. Hendry mengingatkan potensi terjadinya stagflasi, yaitu kondisi ketika harga naik tetapi pendapatan tidak ikut meningkat.
“Bisa stagflasi di mana harga naik tapi pendapatan tidak naik. Ini akan mengubah struktur kontribusi konsumsi rumah tangga ke PDB karena konsumsi rumah tangga sangat sensitif terhadap kenaikan harga BBM,” ungkapnya.
Ia juga menekankan pentingnya langkah mitigasi dari pemerintah, termasuk pemberian bantuan sosial agar dampak kenaikan harga tidak semakin berat.
“Kenaikan harga tanpa kompensasi social safety net akan menyebabkan stagflasi karena pendapatan masyarakat tidak meningkat tetapi tergerus inflasi,” ujarnya.
Sumber Referensi
https://www.liputan6.com/bisnis/read/6306756/begini-prediksi-harga-bbm-pada-1-april-2026










