Pemerintah resmi mempertahankan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) tidak mengalami kenaikan pada 1 April 2026. Kebijakan ini dianggap sebagai strategi jangka pendek untuk menahan tekanan harga dan menjaga stabilitas konsumsi domestik. Meski demikian, sejumlah ekonom mengingatkan bahwa langkah tersebut berpotensi menimbulkan tekanan baru terhadap fiskal apabila harga minyak dunia terus bergerak di level tinggi.
BBM Ditahan untuk Stabilitas Jangka Pendek
Melansir dari laman nasional.kontan.co.id, Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menilai keputusan tidak menaikkan harga BBM di tengah lonjakan harga minyak mentah global hingga menyentuh US$ 100 per barel merupakan langkah taktis pemerintah demi menjaga daya beli masyarakat.
Ia mengingatkan bahwa asumsi harga minyak dalam APBN jauh lebih rendah, yaitu hanya di kisaran US$ 70 per barel, sehingga jurang antara harga acuan internasional dan harga domestik semakin melebar.
“Menahan harga BBM dalam 2-3 bulan ke depan adalah langkah tepat untuk menjaga daya beli masyarakat. Tentunya harga jual BBM dalam bulan-bulan berikutnya perlu disesuaikan dengan harga internasional dan kapasitas fiskal kita,” ujar Wijayanto, Kamis (2/4/2026).
Dengan kata lain, stabilitas harga yang ditahan pada awal tahun ini diharapkan menjadi penahan sementara agar tidak terjadi gejolak di masyarakat.
Risiko Defisit Membengkak Jika Harga Tak Disesuaikan
Meski mendukung langkah jangka pendek tersebut, Wijayanto menekankan bahwa beban fiskal berpotensi membesar secara signifikan apabila perbedaan harga tidak segera dikoreksi. Menurutnya, apabila harga minyak dunia terus berada pada posisi tinggi dan harga domestik tidak disesuaikan, maka pemerintah akan menanggung biaya subsidi yang semakin besar.
Ia menilai kondisi ini sangat mungkin membuat target defisit anggaran meleset jauh dari rencana awal.
“Defisit akan melebar. Kita perlu menerbitkan lebih banyak surat utang, pada saat kondisi ekonomi dunia sedang tidak pasti. Selain suku bunga tinggi, risiko undersubscribe juga sangat tinggi,” jelasnya.
Penerbitan surat utang yang lebih besar disebut akan menghadapi risiko tambahan karena pasar keuangan global saat ini sedang dalam situasi tidak menentu.
Kenaikan BBM Tinggal Menunggu Waktu
Wijayanto menegaskan bahwa menjaga harga dalam jangka panjang bukanlah langkah yang realistis. Menurutnya, pemerintah hanya bisa menahan harga untuk periode tertentu sebelum akhirnya menyesuaikan harga mengikuti pergerakan internasional serta kemampuan fiskal negara.
“Menaikkan harga BBM adalah kepastian, ini masalah timing saja,” pungkasnya.
Ia menilai momen penyesuaian perlu diperhitungkan secara matang agar tidak memicu gejolak ekonomi atau tekanan inflasi yang terlalu besar.
Kesimpulan
Keputusan pemerintah menahan harga BBM pada awal April 2026 dinilai strategis untuk menjaga stabilitas konsumsi masyarakat di tengah tekanan global. Namun, para ekonom memperingatkan bahwa kebijakan ini hanya bersifat sementara. Jika harga minyak dunia tetap tinggi, penyesuaian harga BBM diprediksi tidak bisa dihindari demi menjaga kesehatan fiskal negara. Pada akhirnya, tantangan utama pemerintah adalah menentukan waktu yang paling tepat agar transisi harga tidak berdampak besar pada inflasi maupun perekonomian secara umum.
Sumber referensi
https://nasional.kontan.co.id/news/ekonom-ingatkan-risiko-defisit-jika-harga-bbm-terus-ditahan


Komentar