Gema takbir merupakan penanda utama berakhirnya bulan suci Ramadan dan datangnya hari kemenangan, Idul Fitri. Melantunkan takbir merupakan bentuk rasa syukur dan pengagungan kepada Allah SWT atas segala nikmat dan petunjuk-Nya selama menjalankan ibadah puasa. Takbiran bukan sekadar tradisi budaya, melainkan ibadah sunnah yang dianjurkan oleh para ulama dan memiliki landasan kuat dalam syariat Islam, sebagaimana firman Allah dalam Surat Al-Baqarah ayat 185 yang memerintahkan umat muslim untuk mengagungkan Allah setelah mencukupkan bilangan puasa.
Lafadz Takbir: Versi Pendek dan Panjang
Dalam praktiknya, terdapat dua jenis teks takbiran yang umum dikumandangkan.
Versi pendek berfokus pada pernyataan keesaan Allah:
اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ، لا إِلهَ إِلاَّ اللهُ واللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ وَِللهِ الحَمْدُ
Arab latin: Allaahu akbar, Allaahu akbar, Allaahu akbar, laa illaa haillallahuwaallaahuakbar. Allaahu akbar walillaahil hamd.
Artinya: “Allah maha besar Allah maha besar Allah maha besar. Tiada Tuhan selain Allah, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar dan segala puji bagi Allah.”
Sementara itu, versi lengkap (panjang) mencakup dzikir tambahan yang sering dibaca di masjid-masjid.
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ، مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ، وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ، وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ.
Arab latin: Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar
Laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar
Allaahu akbar walillaahil hamd Allaahu akbar kabiiraa walhamdulillaahi katsiiraa
wasubhaanallaahi bukrataw wa ashillaa Laa ilaaha illallallahu walaa na’budu illaa iyyaahu
Mukhlishiina lahuddiin Walau karihal kaafiruun Laa ilaaha illallaahu wahdah, shadaqa wa’dah, wanashara ‘abdah, wa a’azza jundah, wahazamal ahzaaba wahdah Laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar Allaahu akbar walillaahil hamd
Artinya: “Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar
Tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Allah dan Allah Maha Besar
Allah Maha Besar dan segala puji hanya bagi Allah ,Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar
Allah Maha Besar dengan segala kebesaran Segala puji bagi Allah sebanyak-banyaknya
Dan Maha Suci Allah sepanjang pagi dan sore Tiada Tuhan selain Allah dan kami tidak menyembah selain kepada-Nya dengan memurnikan agama Islam meskipun orang kafir membencinya. Tiada Tuhan selain Allah dengan ke Esaan-Nya. Dia menepati janji, menolong hamba dan memuliakan bala tentara-Nya serta melarikan musuh dengan ke Esaan-Nya. Tiada Tuhan selain Allah, Allah Maha Besar. Allah Maha Besar dan segala puji bagi Allah.”
Waktu dan Adab Bertakbir
Waktu pelaksanaan takbiran Idul Fitri (takbir mursal) dimulai sejak matahari terbenam pada malam terakhir Ramadan hingga imam memulai sholat Idul Fitri keesokan harinya.
Umat muslim dianjurkan mengumandangkan takbir di mana saja—baik di masjid, musala, rumah, bahkan di jalanan saat menuju tempat sholat.
Kesimpulan
Mengumandangkan takbir pada malam Idul Fitri (Takbir Mursal) adalah ibadah yang disyariatkan sebagai bentuk syukur kepada Allah SWT setelah menyelesaikan ibadah puasa Ramadan, sesuai dengan petunjuk dalam Al-Qur’an (Surat Al-Baqarah ayat 185).
Sumber
https://www.detik.com/hikmah/khazanah/d-8408283/teks-takbiran-idul-fitri-lengkap-untuk-malam-lebaran










