Lebaran NU 2026 menjadi salah satu momen yang dinantikan umat Islam di Indonesia. Untuk mengetahui tanggal pasti 1 Syawal 1447 H, Nahdlatul Ulama menggunakan metode hisab dan rukyat dalam penentuan Idul Fitri. Prediksi dan jadwal Lebaran versi NU sering menjadi acuan bagi banyak komunitas Muslim, meskipun pemerintah memiliki penetapan resmi melalui sidang isbat.
Artikel ini akan membahas secara lengkap jadwal, prediksi, dan metode penetapan Lebaran NU 2026, agar masyarakat dapat mempersiapkan hari kemenangan dengan tepat.
Penetapan Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1447 H oleh Nahdlatul Ulama (NU) menjadi perhatian publik setiap tahun. Proses ini memadukan pengamatan hilal (rukyat) dan perhitungan astronomi (hisab) agar penentuan tanggal Lebaran akurat dan sesuai syariat. Prediksi awal menunjukkan Lebaran NU 2026 berpotensi jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026, tetapi kepastian menunggu hasil rukyatul hilal.
Metode Penetapan Awal Bulan Syawal oleh NU
NU menggunakan metode gabungan rukyat dan hisab, dengan dua pendekatan utama:
- Imkanur Rukyat Nahdlatul Ulama (IRNU) – Hisab digunakan untuk memperkirakan kemungkinan terlihatnya hilal. Jika memenuhi kriteria, rukyat dilakukan untuk konfirmasi.
- Qath’iy Rukyat Nahdlatul Ulama (QRNU) – Hasil rukyat yang benar-benar terlihat dijadikan penetapan awal bulan secara pasti (qath’iy).
Pendekatan ini memastikan NU mengintegrasikan perhitungan astronomi dengan pengamatan nyata, sehingga penetapan Lebaran tetap ilmiah sekaligus syar’i.
Metode Rukyatul Hilal dan Kriteria MABIMS
NU menekankan rukyatul hilal sebagai pedoman utama, didukung Hisab Imkanur Rukyat. Sejak 2022, NU mengadopsi kriteria MABIMS, yaitu:
- Tinggi hilal minimal 3°
- Elongasi minimal 6,4°
Jika hilal tidak terlihat karena cuaca atau posisi rendah, bulan Ramadan akan digenapkan 30 hari (istikmal), sesuai hadis Nabi Muhammad. Metode ini menjadikan kesaksian visual hilal sebagai penentu utama masuknya bulan baru, bukan semata perhitungan matematis.
Peran Lembaga Falakiyah NU (LFNU)
LFNU mengelola hisab, rukyat, dan pengembangan ilmu falak di lingkungan NU. Untuk 2026, rukyatul hilal dijadwalkan pada Kamis, 19 Maret 2026, di Kantor PBNU, Jakarta Pusat, mulai pukul 16.00 WIB. Berdasarkan data hisab LFNU, Kemenag, dan BMKG, posisi hilal pada 19 Maret 2026 diperkirakan belum memenuhi kriteria, sehingga 1 Syawal 1447 H kemungkinan jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.
Perbandingan Metode Penetapan Hilal di Indonesia
Di Indonesia, ada dua metode utama:
- Muhammadiyah – Menggunakan Hisab Hakiki Wujudul Hilal, fokus pada perhitungan astronomi presisi.
- NU & Pemerintah – Menggunakan Rukyatul Hilal, observasi langsung hilal di berbagai titik dengan kriteria MABIMS.
Perbedaan metode ini kadang membuat tanggal Lebaran berbeda, tetapi jika hilal terlihat jelas, NU dan Muhammadiyah bisa merayakan Lebaran pada hari yang sama.
Sidang Isbat dan Keputusan Pemerintah
Pemerintah melalui Kementerian Agama menggelar Sidang Isbat 1 Syawal 1447 H pada Kamis, 19 Maret 2026, di Auditorium H.M. Rasjidi, Jakarta. Sidang diawali dengan Seminar Posisi Hilal, dilanjutkan pembahasan data rukyat dari 117 titik pengamatan di seluruh Indonesia.
Hadir dalam sidang antara lain perwakilan NU, Muhammadiyah, pakar astronomi, serta instansi terkait. Hasil sidang diumumkan Menteri Agama secara resmi, menjadi acuan bagi seluruh umat Islam di Indonesia. NU sendiri biasanya menyesuaikan keputusan pemerintah karena metode rukyatul hilal yang digunakan serupa.
Kesimpulan
- Lebaran NU 2026 diprediksi jatuh pada 21 Maret 2026, menunggu hasil rukyatul hilal.
- NU menggunakan metode gabungan rukyat dan hisab, mengacu pada kriteria MABIMS.
- LFNU bertugas melakukan pengamatan hilal di berbagai wilayah Indonesia.
- Pemerintah mengumumkan tanggal resmi melalui Sidang Isbat 19 Maret 2026.
- Perbedaan metode dengan Muhammadiyah dapat terjadi, tetapi keputusan pemerintah tetap menjadi acuan nasional.










