Meski hasil hisab di Kota Medan menunjukkan hilal belum memenuhi kriteria visibilitas, kondisi berbeda ditemukan di wilayah barat Indonesia seperti Aceh. Berdasarkan perhitungan BMKG, posisi hilal di wilayah paling barat Indonesia sedikit lebih tinggi dibandingkan daerah lain.
Kepala BMKG Wilayah I Sumut, Hendro Nugroho, menjelaskan bahwa wilayah Sabang memiliki nilai ketinggian hilal yang sudah melewati batas minimum, meskipun elongasinya masih belum mencukupi.
“Nah, bagaimana di wilayah barat Indonesia? Wilayah barat Indonesia di Sabang, paling barat Indonesia, itu adalah menurut perhitungan BMKG itu tinggi hilalnya adalah 3,1 (derajat) ya, elongasinya 6,1 derajat. Jadi belum memenuhi kriteria MABIMS, tetapi kita tunggu ya sidang isbat nanti malam apakah diputuskan hari raya untuk besok atau lusa,” jelasnya.
Dengan kondisi tersebut, ada kemungkinan hilal dapat terlihat secara kasat mata, meskipun belum sepenuhnya memenuhi standar MABIMS. Hal ini membuka peluang adanya perbedaan hasil rukyat di beberapa titik pengamatan.
“Dan mudah-mudahan di Aceh, meskipun tinggi hilalnya sudah memenuhi syarat dan elongasinya belum memenuhi syarat MABIMS, itu dapat dilihat gitu ya. Nah, ini harapan kita gitu ya. Tapi kalau belum dapat dilihat, ya kita serahkan pada Menteri Agama untuk sidang isbat nanti,” ujarnya.
Di sisi lain, proses pengamatan hilal dilakukan menggunakan perangkat teleskop canggih yang mampu mengikuti pergerakan bulan secara otomatis untuk meningkatkan akurasi pengamatan.
“Ya, seperti saudara-saudara saksikan, kita menyiapkan BMKG wilayah 1 menyiapkan teleskop. Di sini adalah Vixen, dan ini akan dihubungkan dengan laptop atau komputer. Nanti kita diatur apa tuh, penglihatannya. Jadi kita akan menggunakan, sudah, teleskopnya ini sudah diarahkan ke matahari dan dia akan bergerak mengikuti bulan dengan otomatis,” pungkasnya.
Meskipun demikian, keputusan akhir terkait penetapan 1 Syawal 1447 H tetap berada di tangan pemerintah pusat melalui sidang isbat yang akan digelar oleh Kementerian Agama.










