Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menjelaskan alasan nilai tukar rupiah terus mengalami pelemahan meskipun kondisi fundamental ekonomi Indonesia masih tergolong kuat. Situasi tersebut membuat Bank Indonesia harus melakukan intervensi besar-besaran di pasar valuta asing domestik maupun internasional.
Faktor Global Jadi Penyebab Utama Pelemahan Rupiah
Menurut Perry, pelemahan mata uang tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga dialami hampir seluruh negara di dunia akibat tekanan global. “Kenaikan harga minyak akibat tensi geopolitik, tingkat suku bunga di AS yang meningkat dan dolar nya menguat,” kata Gubernur Perry saat keterangan pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSS), Kamis, 7 Mei 2026.
Ia juga menjelaskan bahwa saat ini terjadi arus keluar modal asing dari berbagai negara berkembang atau emerging market, sehingga mata uang negara-negara tersebut ikut tertekan. Khusus di Indonesia, kondisi itu diperburuk oleh faktor musiman.
Salah satunya adalah musim haji yang menyebabkan permintaan terhadap dolar Amerika Serikat meningkat tajam. “Kita pastikan jemaah haji yang membutuhkan dolar dapat terpenuhi,” ucap Perry.
Selain musim haji, periode April hingga Mei juga menjadi waktu di mana kebutuhan korporasi terhadap dolar AS meningkat signifikan. “Mereka membutuhkan dolar AS untuk repatriasi dividen atau untuk membayar utang luar negeri, baik dan dan pokoknya,” ujar Perry.
Karena itu, tujuh langkah yang ditempuh Bank Indonesia untuk menjaga kestabilan rupiah disebut bukan langkah biasa. “Langkah itu merupakan langkah ‘all out’ dalam upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah,” kata Perry menegaskan.
BI Lakukan Langkah All Out Stabilkan Rupiah
Langkah intervensi tersebut berdampak pada penurunan cadangan devisa Indonesia selama periode Januari hingga April 2026. Meski demikian, Perry menegaskan bahwa intervensi yang dilakukan di pasar valas domestik dan luar negeri masih berada dalam batas yang terukur.
“Tolong diingat, cadangan devisa itu kita kumpulkan pada saat panen inflow (aliran masuk modal asing) besar. Makanya kita gunakan, saat paceklik, dimana terjadi outflow (aliran keluar modal asing) jumlahnya besar,” ujar Perry
Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah tercatat melemah dan ditutup di level Rp17.382 per dolar AS. Tekanan terhadap rupiah terjadi seiring penguatan dolar AS akibat memanasnya kembali konflik antara AS dan Iran.
Sumber Referensi
https://rri.co.id/keuangan/2400490/penjelasan-bi-mengapa-rupiah-melemah-padahal-fundamental-ekonomi-indonesia-kuat


Komentar