Setelah Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah, umat Islam memasuki bulan Syawal yang dikenal dengan anjuran menjalankan puasa sunnah selama enam hari.
Ibadah ini sering dijadikan sebagai lanjutan dari amalan di bulan Ramadan, sekaligus upaya menjaga konsistensi dalam berpuasa.
Memasuki bulan Syawal, banyak umat Muslim mulai mencari informasi terkait tata cara pelaksanaannya, mulai dari bacaan niat hingga waktu terbaik untuk menjalankannya. Lalu, seperti apa niat dan panduan dalam melaksanakan puasa Syawal?
Berdasarkan informasi dari laman resmi Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada (2/5/2023), puasa Syawal tetap harus diawali dengan niat sebagai syarat sah ibadah.
Berbeda dengan puasa wajib, niat puasa sunnah bisa dilakukan sejak malam hari maupun di siang hari, selama seseorang belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar.
Niat dan Waktu Pelaksanaan Puasa Syawal
Dilansir dari Kompas.com berikut ini beberapa bacaan niat puasa Syawal:
Niat sejak malam hari (berurutan):
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سِتَّةٍ مِنْ شَوَّالٍ للهِ تعالى
Latin: “Nawaitu shauma ghadin ‘an adā’i sittatin min Syawwāl lillāhi ta‘ālā.”
Artinya: “Saya niat puasa esok hari untuk menunaikan puasa sunah enam hari di bulan Syawal karena Allah Ta’ala.”
Niat sejak malam hari (tidak berurutan):
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ الشَّوَّالِ للهِ تعالى
Latin: “Nawaitu shauma ghadin ‘an adā’i sunnatis Syawwāl lillāhi ta‘ālā.”
Artinya: “Saya niat puasa sunah Syawal esok hari karena Allah Ta’ala.”
Niat pada siang hari:
نَوَيْتُ صَوْمَ هَذَا اليَوْمِ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ الشَّوَّالِ للهِ تعالى
Latin: “Nawaitu shauma hādzal yaumi ‘an adā’i sunnatis Syawwāl lillāhi ta‘ālā”.
Artinya: “Saya niat puasa sunah Syawal hari ini karena Allah Ta’ala.”
Pelaksanaan puasa Syawal dimulai sejak tanggal 2 Syawal dan tidak wajib dilakukan berturut-turut, asalkan masih berada dalam bulan Syawal.
Tata Cara Menjalankan Puasa Syawal
Setelah melafalkan niat, pelaksanaan puasa Syawal pada dasarnya sama dengan puasa pada umumnya.
Berikut panduan singkatnya:
- Menahan diri dari fajar hingga maghrib, termasuk dari makan, minum, dan hal yang membatalkan puasa
- Menghindari segala perbuatan yang dapat membatalkan puasa
- Dianjurkan untuk sahur karena mengandung keberkahan
- Segera berbuka saat waktu maghrib tiba
- Boleh dilakukan secara berurutan maupun terpisah selama masih dalam bulan Syawal
- Hukum Menggabungkan Puasa Syawal dengan Qadha
Bagi umat Islam yang masih memiliki utang puasa Ramadan, sering muncul pertanyaan apakah puasa tersebut bisa digabung dengan puasa Syawal.
Para ulama menjelaskan bahwa menggabungkan niat puasa qadha dengan puasa Syawal diperbolehkan. Seseorang tetap bisa mendapatkan pahala puasa Syawal meskipun digabung dalam satu niat.
Namun, pahala yang diperoleh tidak sepenuhnya sama seperti menjalankan puasa Syawal secara khusus.
Keutamaan Puasa Syawal
Keutamaan puasa Syawal didasarkan pada hadits Nabi Muhammad SAW:
عَنْ أَبِي أَيُّوبَ الْأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ صَامَ رَمَضَانَ، ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ، كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
Artinya: “Barangsiapa berpuasa Ramadhan, kemudian diikuti puasa enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa sepanjang tahun.” (HR Muslim No. 1164)
Agar mendapatkan keutamaan tersebut secara maksimal, para ulama menganjurkan untuk menyelesaikan terlebih dahulu puasa qadha, kemudian dilanjutkan dengan puasa enam hari di bulan Syawal.
Kesimpulan
Puasa 6 hari di bulan Syawal merupakan amalan sunnah yang dianjurkan setelah Idul Fitri, dengan pelaksanaan yang fleksibel, niat yang mudah, serta boleh digabung dengan puasa qadha meski lebih utama dilakukan secara terpisah.
Sumber Referensi
https://www.kompas.com/banten/read/2026/03/23/110000888/puasa-syawal-6-hari–niat-tata-cara-dan-hukum-gabung-dengan-qadha?page=2










