Siapakah Tan Malaka? Berikut Biografi Bapak Republik Indonesia yang Jarang Diketahui
Tan Malaka merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Ia dikenal sebagai seorang pemikir, pendidik, jurnalis, dan pejuang yang memiliki gagasan besar tentang kemerdekaan Indonesia. Bahkan, Tan Malaka dijuluki sebagai Bapak Republik Indonesia karena menjadi salah satu tokoh pertama yang merumuskan konsep negara republik sebelum Indonesia merdeka.
Atas jasa-jasanya, Tan Malaka dianugerahi gelar Pahlawan Nasional berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 53 Tahun 1963 yang ditandatangani Presiden Soekarno.
Profil Singkat Tan Malaka
Tan Malaka memiliki nama asli Ibrahim Gelar Datuk Sutan Malaka. Ia lahir pada 2 Juni 1897 di Nagari Pandam Gadang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat.
Ayahnya bernama Rasad Caniago, sedangkan ibunya Sinah Sinabur. Gelar adat Datuk Tan Malaka diperolehnya pada tahun 1913 melalui upacara adat Minangkabau.
Sejak kecil, Tan Malaka dikenal sebagai sosok yang cerdas. Ia menempuh pendidikan di Kweekschool Bukittinggi, sekolah calon guru pribumi terbaik di Sumatera saat itu. Berkat prestasinya, ia melanjutkan pendidikan ke Rijkskweekschool Haarlem, Belanda.
Selama berada di Belanda, Tan Malaka mulai mempelajari berbagai pemikiran politik, termasuk sosialisme, komunisme, nasionalisme, serta karya-karya Karl Marx, Friedrich Engels, dan Vladimir Lenin.
Perjuangan Tan Malaka
Sekembalinya ke Indonesia, Tan Malaka mengajar di perkebunan Deli, Sumatera Timur. Pengalamannya melihat kehidupan para buruh yang tertindas membuatnya semakin aktif memperjuangkan keadilan sosial.
Beberapa perjalanan perjuangannya antara lain:
- Menjadi guru dan jurnalis yang aktif mengkritik ketimpangan sosial.
- Bergabung dalam pergerakan politik dan memimpin Partai Komunis Indonesia (PKI) pada tahun 1921.
- Mendirikan Sekolah Sarekat Islam di Semarang.
- Ditangkap pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1922 dan diasingkan ke Belanda.
- Hidup dalam pengasingan di berbagai negara seperti Tiongkok, Thailand, Hong Kong, Singapura, dan
- Filipina selama sekitar dua dekade.
- Kembali ke Indonesia pada tahun 1942.
- Membentuk Persatuan Perjuangan pada tahun 1946 yang mendukung kemerdekaan Indonesia tanpa kompromi.
- Ditangkap kembali pada tahun 1946 dan dibebaskan setelah peristiwa Madiun.
Pada 21 Februari 1949, Tan Malaka ditangkap dan dieksekusi di wilayah Kediri, Jawa Timur. Makamnya baru berhasil ditemukan puluhan tahun kemudian oleh peneliti Belanda, Harry Poeze. Pada tahun 2017, jasadnya dipindahkan ke kampung halamannya di Sumatera Barat.
Pemikiran Tan Malaka
Selain dikenal sebagai pejuang kemerdekaan, Tan Malaka juga merupakan seorang pemikir yang menaruh perhatian besar terhadap pendidikan.
Beberapa gagasannya meliputi:
- Pendidikan gratis hingga usia 17 tahun.
- Penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar pendidikan.
- Pengembangan sekolah kejuruan, pertanian, perdagangan, dan teknik.
- Pendidikan sebagai sarana membebaskan rakyat dari kebodohan dan penjajahan.
- Mendorong masyarakat berpikir rasional melalui konsep Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika).
Menurut Tan Malaka, kemerdekaan politik tidak akan berarti tanpa kemerdekaan berpikir dan pendidikan yang berkualitas.
Karya-Karya Tan Malaka
Tan Malaka juga menghasilkan sejumlah karya penting yang masih dipelajari hingga saat ini, di antaranya:
- Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika)
- Naar de Republiek Indonesia
- Aksi Massa
- Dari Penjara ke Penjara
- Menuju Merdeka 100%
- Gerpolek (Gerilya Politik Ekonomi)
- Muslihat, Politik, dan Rencana Ekonomi Berjuang
Melalui buku-buku tersebut, Tan Malaka menuangkan pemikirannya mengenai pendidikan, perjuangan rakyat, kemerdekaan, hingga pembangunan bangsa.
Tan Malaka sebagai Pahlawan Nasional
Meskipun perjalanan hidupnya penuh kontroversi, jasa Tan Malaka dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia diakui negara. Pada 28 Maret 1963, pemerintah menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 53 Tahun 1963.
Hingga kini, Tan Malaka dikenang sebagai salah satu tokoh yang berani memperjuangkan kemerdekaan Indonesia melalui pendidikan, pemikiran, dan perjuangan politik. Gagasan-gagasannya tentang republik, pendidikan, dan kebebasan berpikir masih menjadi inspirasi bagi generasi penerus bangsa.


