Di balik upaya pemulihan ekonomi pascabencana, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara melalui DP3AKB juga menaruh perhatian serius pada aspek psikologis perempuan dan anak yang terdampak. Hal ini menjadi bagian penting dari pendekatan holistik dalam pemulihan masyarakat, Senin (13/4/2026).
Kepala Dinas DP3AKB Sumut, Dwi Endah Purwanti, menekankan bahwa trauma akibat bencana tidak bisa diabaikan karena berdampak langsung terhadap kualitas hidup korban, terutama perempuan dan anak.
Ia menjelaskan bahwa banyak korban mengalami kehilangan anggota keluarga, yang memicu tekanan emosional dan psikologis yang mendalam.
“Saudara kita yang terdampak bencana tentunya sangat membutuhkan layanan psikososial. Mereka ada yang kehilangan suaminya, ada yang kehilangan orang tuanya,” ujarnya.
Sebagai bentuk respons, DP3AKB menghadirkan layanan psikososial dengan melibatkan berbagai pihak, mulai dari psikolog hingga komunitas literasi.
“Karena itu, kami fokus memberikan layanan ini kepada perempuan dan anak di wilayah Tapsel, Tapteng, dan Sibolga,” katanya.
Selain layanan pendampingan, pemerintah juga memberikan bantuan langsung untuk memenuhi kebutuhan dasar kelompok rentan.
“Kami juga menyalurkan bantuan kebutuhan spesifik perempuan dan anak serta makanan siap saji kepada 1.000 korban banjir dan longsor di Sumut,” tambahnya.


