Perhelatan Ramadhan Fair XX di Kota Medan mencatat capaian ekonomi yang signifikan. Selama berlangsung sejak 25 Februari 2026, total transaksi dari aktivitas bazar UMKM mencapai sekitar Rp2,2 miliar, menunjukkan tingginya perputaran ekonomi masyarakat selama bulan Ramadan.
Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas menilai kegiatan ini bukan sekadar agenda rutin tahunan, tetapi memiliki peran strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis masyarakat, khususnya pelaku usaha kecil dan menengah.
“Ramadhan Fair bukan hanya perayaan budaya dan religi, tetapi juga motor penggerak ekonomi kerakyatan. UMKM adalah tulang punggung perekonomian daerah,” katanya dilihat berdasarkan keterangan tertulis dari pemko medan, Kamis (19/3/2026).
Dalam pelaksanaannya, sekitar 150 gerai kuliner dan puluhan stan kriya turut ambil bagian meramaikan kawasan sekitar Masjid Raya Al-Mashun dan Taman Sri Deli. Kehadiran para pelaku usaha ini menjadi faktor utama tingginya transaksi selama kegiatan berlangsung.
Rata-rata nilai transaksi harian tercatat mencapai Rp110 juta, dengan jumlah pengunjung yang konsisten berada di angka sekitar dua ribu orang setiap hari. Antusiasme masyarakat ini turut memperkuat posisi Ramadhan Fair sebagai ruang ekonomi yang hidup selama bulan suci.
Selain berdampak pada ekonomi, kegiatan ini juga menjadi wadah interaksi sosial dan penguatan nilai keagamaan di tengah masyarakat.
“Ramadhan Fair telah menjadi tradisi dan identitas Kota Medan selama dua dekade terakhir. Kegiatan ini bukan sekadar agenda tahunan, tetapi juga ruang kebersamaan masyarakat sekaligus sarana syiar keagamaan di bulan suci Ramadan,” ujarnya.


Komentar