Harga emas global kembali mengalami tekanan signifikan pada Selasa, 24 Maret 2026, seiring meningkatnya ketidakpastian geopolitik di kawasan Timur Tengah. Kondisi ini memicu reaksi besar di pasar komoditas, terutama setelah Amerika Serikat mengumumkan perubahan sikap terkait rencana serangan ke Iran. Koreksi tajam ini menjadi penurunan beruntun terpanjang yang pernah terjadi dalam sejarah perdagangan emas dunia.
Harga Emas Mengalami Koreksi Tajam
Mengutip data Yahoo Finance, harga emas spot turun 1,5% menjadi USD 4.340,80 per ounce pada pukul 09.16 waktu Singapura. Penurunan tidak hanya terjadi pada emas, tetapi juga merembet ke komoditas logam mulia lain seperti perak yang merosot 3,3% ke USD 66,81 per ounce, serta platinum dan paladium yang ikut mengalami tekanan.
Emas batangan bahkan turun 1,8% setelah sebelumnya sempat menguat mendekati 1% dalam sesi perdagangan yang volatil. Pelemahan ini memperpanjang rentetan penurunan harga emas menjadi sembilan hari berturut-turut, dan satu langkah lagi menuju rekor penurunan terpanjang sepanjang masa.
Sikap Amerika Serikat Pengaruhi Sentimen Pasar
Penurunan harga emas dipengaruhi oleh pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menunda aksi militer terhadap infrastruktur energi Iran. Trump menyebut telah terjadi “diskusi produktif”, meskipun pejabat Iran membantah adanya peluang negosiasi. Situasi ini menciptakan ketidakpastian baru, terutama setelah media seperti Wall Street Journal melaporkan kemungkinan negara-negara Teluk yang bersekutu dengan AS ikut terlibat.
Tingginya harga energi akibat konflik regional juga menambah tekanan inflasi global. Kondisi ini mendorong investor melepas posisi mereka di emas untuk dialihkan ke aset lain yang dianggap memberi potensi keuntungan lebih cepat.
Kondisi Pasar Mirip Krisis 2022 dan 2008
Menurut Kepala Riset Komoditas Global Standard Chartered, Suki Cooper, pelemahan harga emas dalam situasi krisis bukanlah fenomena baru. Ia menjelaskan bahwa emas sering dilepas investor selama masa-masa ekstrem untuk memenuhi margin call pada aset yang merugi. Hal serupa pernah terjadi setelah invasi Rusia ke Ukraina pada awal 2022 serta selama krisis keuangan global 2008.
Kepala Strategi Valuta Asing Global Union Bancaire Privee, Peter Kinsella, menyatakan bahwa penurunan emas saat ini lebih banyak dipengaruhi posisi jangka pendek investor daripada perubahan fundamental jangka panjang.
Arah Harga Emas ke Depan Masih Tidak Pasti
Meskipun ada jeda dari ancaman serangan militer, masa depan jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz masih penuh risiko. Kerusakan infrastruktur energi membutuhkan waktu pemulihan panjang, sementara tekanan inflasi dan ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral tetap menjadi faktor penghambat utama bagi emas.
Sejak awal konflik pada Februari, harga emas batangan sudah merosot hampir 17%. Ini mengakhiri reli panjang yang sebelumnya didorong oleh pembelian besar-besaran bank sentral dan ketegangan geopolitik global.
Kesimpulan
Harga emas dunia saat ini berada dalam tren penurunan paling dalam dalam sejarah modern, dipicu kombinasi ketidakpastian geopolitik, kenaikan harga energi, serta reposisi investor di pasar global. Meski koreksi sedang berlangsung, faktor fundamental jangka panjang seperti tensi geopolitik dan permintaan bank sentral tetap menjadi penyangga bagi potensi penguatan emas ke depan.
Sumber referensi
https://www.liputan6.com/bisnis/read/6302977/harga-emas-dunia-hari-ini-24-maret-2025-anjlok-15










