Pimpinan Pusat Muhammadiyah melalui Majelis Tarjih dan Tajdid telah menetapkan Hari Raya Idulfitri atau 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026.
Keputusan ini tercantum dalam Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 2/MLM/I.0/E/2025 tentang Penetapan Hasil Hisab Ramadan, Syawal, dan Zulhijah 1447 Hijriah.
Maklumat tersebut menjadi pedoman bagi umat Muhammadiyah dalam menjalankan ibadah Ramadan hingga merayakan Lebaran 2026.
Metode Kalender Muhammadiyah
Penentuan awal bulan Hijriah oleh Muhammadiyah menggunakan Hisab Hakiki Wujudul Hilal, yakni perhitungan astronomi yang menentukan awal bulan berdasarkan posisi bulan setelah ijtimak.
Dalam metode ini, awal bulan ditetapkan ketika ijtimak telah terjadi dan bulan terlihat di atas ufuk saat matahari terbenam. Pendekatan ini memungkinkan kalender Islam dihitung jauh sebelumnya tanpa harus menunggu pengamatan hilal langsung.
Menurut maklumat, ijtimak menjelang Syawal 1447 H terjadi pada 19 Maret 2026 pukul 01.23 UTC. Setelah peristiwa ini, terdapat wilayah di bumi yang memenuhi kriteria kalender hijriah global dengan tinggi bulan lebih dari 5 derajat dan elongasi minimal 8 derajat.
Parameter astronomi ini menjadi dasar Muhammadiyah menetapkan 1 Syawal 1447 H jatuh pada 20 Maret 2026. Selain itu, sistem kalender Muhammadiyah merujuk pada konsep Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang menggunakan kriteria astronomi tertentu, termasuk tinggi hilal minimal lima derajat dan elongasi minimal delapan derajat.
Penetapan Idulfitri 1447 H Versi Pemerintah
Berdasarkan penjelasan Arsad Hidayat, Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kementerian Agama, Sidang Isbat untuk menetapkan 1 Syawal 1447 H akan digelar pada 19 Maret 2026, bertepatan dengan 29 Ramadan 1447 H, di Auditorium H.M. Rasjidi, kantor pusat Kementerian Agama, Jakarta. Sidang ini menjadi mekanisme resmi pemerintah untuk menentukan awal bulan hijriah, termasuk Syawal sebagai penanda Hari Raya Idulfitri.
Keputusan Sidang Isbat diambil melalui musyawarah dengan mempertimbangkan data hisab (perhitungan astronomi) dan hasil rukyatul hilal dari berbagai wilayah di Indonesia. Sidang ini mempertemukan unsur pemerintah, ulama, pakar astronomi, serta organisasi kemasyarakatan Islam untuk menghasilkan keputusan yang komprehensif dan menjadi pedoman bagi umat Islam.
Menurut Arsad, ijtimak menjelang Syawal 1447 H terjadi pada Kamis, 19 Maret 2026 pukul 08.23 WIB. Pada saat rukyatul hilal dilakukan, posisi hilal di seluruh Indonesia diperkirakan berada di atas ufuk dengan ketinggian antara 0°54’27’’ hingga 3°7’52’’ dan sudut elongasi berkisar 4°32’40’’ hingga 6°6’11’’.
Untuk memverifikasi data, Kementerian Agama bersama pihak terkait akan melakukan rukyatul hilal di berbagai titik di seluruh Indonesia, mulai dari Aceh hingga Papua. Hasil rukyat dan data hisab akan dimusyawarahkan dalam Sidang Isbat sebelum diumumkan kepada masyarakat sebagai pedoman resmi merayakan Idulfitri.
“Jadi kalau ditanya kapan Hari Raya Idulfitri, kita imbau masyarakat menunggu hasil Sidang Isbat pada 19 Maret 2026,” ujar Arsad. Ia menambahkan bahwa perbedaan penetapan awal Syawal, seperti yang dilakukan Muhammadiyah, adalah bagian dari dinamika keilmuan Islam yang sudah lama dikenal.
Pemerintah menghormati metode yang digunakan berbagai organisasi Islam, tetapi tetap mengimbau masyarakat menunggu keputusan resmi Sidang Isbat.
“Jika ada perbedaan, kedepankan sikap saling menghormati dan menjaga persatuan. Itu hal penting dalam menyikapi dinamika penentuan hari raya,” tandas Arsad.
Kesimpulan
Semoga informasi ini dapat membantu masyarakat memahami penetapan Hari Raya Idulfitri 1447 H baik menurut Muhammadiyah maupun pemerintah.
Sumber Referensi
- https://kabar24.bisnis.com/read/20260319/15/1961320/kapan-lebaran-idulfitri-2026-ini-versi-muhammadiyah-dan-pemerintah










