Indonesia dikenal memiliki kekayaan budaya yang beragam, termasuk dalam menyambut Idul Fitri. Salah satu tradisi yang masih dilestarikan hingga kini adalah sungkeman, terutama di wilayah Jawa. Tradisi ini menjadi momen penting untuk mempererat hubungan keluarga sekaligus menunjukkan rasa hormat kepada orang tua.
Apa Itu Tradisi Sungkeman?
Sungkeman merupakan kebiasaan bersimpuh di hadapan orang yang lebih tua sambil mencium tangan mereka. Tindakan ini melambangkan kerendahan hati, bakti, serta permohonan maaf yang tulus. Biasanya, tradisi ini dilakukan setelah salat Id sebagai bagian dari rangkaian perayaan Lebaran bersama keluarga.
Hukum Sungkeman dalam Islam
Dalam ajaran Islam, sungkeman tidak termasuk ibadah yang secara khusus disebutkan dalam Al-Qur’an maupun hadis. Namun, dalam kaidah ushul fikih dikenal prinsip bahwa hukum asal dari adat kebiasaan adalah boleh atau mubah. Artinya, tradisi ini dapat dilakukan selama tidak bertentangan dengan syariat.
Nilai-Nilai Islam dalam Sungkeman
Meski berasal dari budaya lokal, sungkeman mengandung nilai-nilai yang sejalan dengan ajaran Islam, antara lain:
Berbakti kepada Orang Tua
Islam sangat menekankan pentingnya menghormati orang tua. Sungkeman menjadi salah satu cara untuk menunjukkan rasa hormat dan kasih sayang, sekaligus memohon maaf dengan penuh kelembutan.
Saling Memaafkan
Momentum Lebaran identik dengan saling memaafkan. Tradisi sungkeman memperkuat silaturahmi dalam keluarga serta membuka hati untuk saling mengikhlaskan kesalahan.
Allah menyukai orang yang saling memaafkan. Allah berfirman dalam Surah An-Nur ayat 22 yang berbunyi:
وَلَا يَأْتَلِ اُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ اَنْ يُّؤْتُوْٓا اُولِى الْقُرْبٰى وَالْمَسٰكِيْنَ وَالْمُهٰجِرِيْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِۖ وَلْيَعْفُوْا وَلْيَصْفَحُوْاۗ اَلَا تُحِبُّوْنَ اَنْ يَّغْفِرَ اللّٰهُ لَكُمْۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ٢
Artinya: Janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan (rezeki) di antara kamu bersumpah (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kerabat(-nya), orang-orang miskin, dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah. Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Sikap Rendah Hati
Sungkeman juga mencerminkan kerendahan hati dan kesadaran untuk mengakui kesalahan, terutama kepada orang yang lebih tua.
Pandangan Muhammadiyah tentang Sungkeman
Menurut Muhammadiyah, sungkeman termasuk dalam kategori muamalah atau aktivitas sosial, bukan ibadah mahdhah. Oleh karena itu, tradisi ini diperbolehkan selama memenuhi beberapa syarat, seperti:
- Tidak diyakini sebagai bagian dari kewajiban agama
- Tidak mengandung unsur kesyirikan
- Tidak menyerupai sujud ibadah yang hanya diperuntukkan bagi Allah
Muhammadiyah juga menegaskan bahwa budaya lokal dapat diterima selama tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan sunah.
Kesimpulan
Tradisi sungkeman saat Idul Fitri merupakan warisan budaya yang sarat makna positif, seperti penghormatan kepada orang tua, mempererat silaturahmi, dan menumbuhkan sikap rendah hati. Dalam perspektif Islam, tradisi ini diperbolehkan selama tidak melanggar prinsip akidah dan tetap berada dalam batasan syariat. Dengan demikian, sungkeman bisa menjadi bagian indah dari perayaan Lebaran yang penuh makna.
Sumber
https://www.ums.ac.id/berita/mimbar/sungkeman-lebaran-idulfitri-menurut-islam










