Selasa, 4 Agustus 2026
Informasi Aktual
No Result
View All Result
  • BPJS
    • BPJS Kesehatan
    • BPJS Ketenagakerjaan
  • CPNS
    • PPPK
  • Info
    • Pendidikan
    • Ekonomi
  • Tips dan Panduan
  • Redaksi
  • Kesehatan
  • BPJS
    • BPJS Kesehatan
    • BPJS Ketenagakerjaan
  • CPNS
    • PPPK
  • Info
    • Pendidikan
    • Ekonomi
  • Tips dan Panduan
  • Redaksi
  • Kesehatan
No Result
View All Result
Medan aktual
No Result
View All Result

Ketinggian Matahari dalam Penentuan Waktu-Waktu Shalat

AJR by AJR
23 Maret 2026
in Info
0
Ketinggian Matahari dalam Penentuan Waktu-Waktu Shalat

Ketinggian Matahari dalam Penentuan Waktu-Waktu Shalat

Waktu-waktu shalat dalam Islam memiliki ketentuan yang sangat jelas dan berkaitan erat dengan posisi atau ketinggian matahari di langit. Penentuan waktu ini bukanlah sesuatu yang dilakukan secara sembarangan, melainkan berdasarkan pergerakan matahari yang dapat diamati secara astronomis. Sejak masa awal Islam, umat Muslim telah menggunakan tanda-tanda alam seperti terbit, tergelincir, dan terbenamnya matahari untuk mengetahui masuknya waktu shalat. Dengan perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya dalam bidang astronomi, penentuan waktu-waktu shalat kini dapat dihitung dengan lebih akurat menggunakan konsep ketinggian matahari atau sudut elevasi matahari terhadap horizon.



Ketinggian Matahari dalam Penentuan Waktu Shalat

Ketinggian matahari adalah sudut antara posisi matahari dengan garis horizon yang dilihat dari suatu tempat di bumi. Nilai sudut ini berubah sepanjang hari karena bumi berotasi pada porosnya. Perubahan ketinggian matahari inilah yang menjadi dasar dalam menentukan waktu-waktu shalat.

Waktu Subuh ditentukan ketika fajar shadiq muncul, yaitu saat cahaya putih mulai menyebar secara horizontal di ufuk timur. Dalam perhitungan astronomi, kondisi ini biasanya terjadi ketika matahari berada sekitar 18° di bawah horizon. Setelah matahari terbit, waktu shalat Subuh berakhir. Waktu Zuhur dimulai ketika matahari telah melewati titik kulminasi atau tergelincir dari posisi tertinggi di langit menuju arah barat. Pada saat ini bayangan benda mulai memanjang ke arah timur.




Secara astronomis, peristiwa ini disebut juga dengan waktu matahari melewati meridian setempat. Waktu Asar ditentukan ketika panjang bayangan suatu benda sama dengan panjang bendanya sendiri (menurut sebagian pendapat ditambah panjang bayangan saat Zuhur). Hal ini berkaitan dengan semakin rendahnya ketinggian matahari di langit. Waktu Magrib dimulai ketika matahari telah terbenam sepenuhnya di bawah horizon. Secara astronomis, ini terjadi ketika ketinggian matahari mencapai sekitar -1° atau tepat berada di garis horizon. Sementara itu, waktu Isya dimulai ketika cahaya merah di langit barat telah hilang. Dalam perhitungan astronomi, kondisi ini biasanya terjadi ketika matahari berada sekitar 18° di bawah horizon setelah terbenam.



Kesimpulan

Ketinggian matahari memiliki peran yang sangat penting dalam menentukan waktu-waktu shalat. Perubahan posisi matahari sepanjang hari memberikan tanda-tanda alam yang menjadi pedoman bagi umat Islam untuk melaksanakan ibadah shalat pada waktunya. Dengan bantuan ilmu astronomi, konsep ketinggian matahari dapat dihitung secara lebih tepat sehingga penentuan waktu shalat menjadi lebih akurat dan dapat digunakan secara luas di berbagai wilayah di dunia.

 

Tags: matahariShalatwaktu
Next Post
Konsepsi Heliosentris

Konsepsi Heliosentris

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Informasi terkini di Indonesia, Saldo Dana, Gopay, E Wallet, Informasi bantuan sosial, bantuan pendidikan, beasiswa dan desil serta informasi update lainnya

  • BPJS
  • CPNS
  • Info
  • Tips dan Panduan
  • Redaksi

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.