Sebuah buku yang berjudul “Islamic Science and the Making of the European Renaissance” yang ditulis oleh George Saliba adalah sebuah buku yang mengurai pengaruh sains era peradaban Islam bagi kebangkitan Eropa pasca abad pertengahan. George Saliba (penulis buku, yang juga guru besar Sejarah Sains Arab-Islam di Columbia University, New York, USA) merekonstruksi perdebatan seputar perkembangan ilmu pengetahuan era peradaban Islam hingga ke akar sejarahnya melalui penelaahan sumber-sumber sains dan sumber-sumber sejarah autentik-otoritatif. Terlebih penting Saliba menyoroti standar dan konteks sosial-politik dan hubungannya dengan produk ilmu pengetahuan era Peradaban Islam. Sumbangan pemikiran dalam buku ini adalah kerja kreatif intelektual yang patut dibaca oleh para peneliti, sejarawan sains dan dan pemikir muslim. Berbagai tema seputar sains Islam–khususnya astronomi–ditampilkan secara obyektif tanpa adanya upaya mendramatisasi fakta sejarah.
Substansi Buku
Salah satu pemikiran komprehensif buku ini adalah dikemukakannya interpretasi baru bagi kajian sejarah dan perkembangan ilmu pengetahuan (sains). Uraian dimulai dengan mengkritisi sejarah perkembangan sains astronomi era peradaban Islam yang dimulai pada zaman Abbasiyah, era Al-Ma’mun. Seperti dimaklumi, perkembangan sains di dunia Islam ditandai dengan transformasi dan transfer teks-teks Yunani kedalam bahasa Arab, disini Saliba menggunakan istilah “narasi klasik” (the classical narrative).
Narasi Klasik
Dalam “narasi klasik” ini secara mengejutkan Saliba mengkritisi fakta sejarah sains (astronomi) dengan mengemukakan interpretasi baru bahwa sesungguhnya perkembangan dan interaksi sains Arab-Islam dengan sains tradisi Yunani telah dimulai sejak zaman Umawiyah, tepatnya era Abdul Malik Marwan, yang dalam praktiknya didorong oleh faktor sosial-ekonomi dan kebutuhan administrasi negara. Untuk mendukung “tesis”nya, Saliba merujuk dan melakukan pembacaan repetitif mendalam terhadap buku “Al-Fihrist” karya Ibn an-Nadim, serta pelacakan terhadap sejarah reformasi ilmu era Abdul Malik Marwan.
Ciri khas sekaligus keunggulan buku ini tampak dimana tiap uraian dikemukakan secara argumentatif, selain itu juga disoroti periodisasi perkembangan sains dan hubungannya dengan lapangan pemikiran ilmiah. Saliba mengambil frame perkembangan astronomi era peradaban Islam sebagai “tesis” penelitian. Diantaranya dikemukakan bagaimana para saintis Arab era peradaban Islam mengurai dan memecahkan sindikasi astronomi Ptolemeus dan mengkritisinya. Ia menyimpulkan bahwa sains astronomi tradisi Yunani–dan sains-sains lainnya–sejak periode awal kehadirannya (baca: era Umawiyah) telah mendapat kritik dari ulama Arab. Kritik terpopuler tidak lain adalah apa yang dilakukan Ibn al-Haitsam dalam karyanya “asy-Syukuk ‘ala Bathlamiyus”.
Secara umum buku ini menampilkan tujuh pembahasan (fasal), dimana satu dengan lainnya saling berkaitan. Tujuh fasal itu adalah: (1) Turats Sains Islam I (The Islamic Scientific Tradition : Question Beginnings I), (2) Turats Sains Islam II (The Islamic Scientific Tradition : Question Beginnings II), (3) Konfrontasi dengan Turats Sains Yunani (Encounter with the Greek Scientific Tradition), (4) Astronomi Islam Membentuk Kepribadian : Inovasi Kritis (Islamic Astronomy Defines Itself : The Critical Innovations), (5) Sains antara Agama dan Filsafat : Kasus Astronomi (Science between Philosophy and Religion : The Case of Astronomy), (6) Sains Islam dan Perkembangan Eropa : Koneksi Kopernikan (Islamic Astronomy and Renaissance Europe : The Copernican Connection), (7) Era Kemunduran : Fekunditas Pemikiran Astronomi (Age of Decline : The Fecundity of Astronomical Thought).
Kesimpulan
Tahun 2011, buku ini telah diterjemahkan kedalam bahasa Arab oleh Dr. Mahmud Haddad dengan judul “al-‘Ulum al-Islamiyyah wa Qiyam an-Nahdhah al-Eurubbiyyah”, diterbitkan oleh tiga penerbit sekaligus: (1) ad-Dar al-‘Arabiyyah li al-‘Ulum Nasyirun (Beirut), (2) Marka Jami’ asy-Syaikh Zaid al-Kabir (Abu Dabi), dan (3) Kalimah (Abu Dabi).[]










