Tingkatan Pertama
Paling tidak ada lima tingkatan cinta Ilahi yang terfilosofi dari rukun Islam. Pertama, bentuk pertama ungkapan cinta adalah menyebut dan mengingat Allah dalam hati yang dilakukan berulang kali. Inilah yang dalam Islam terterjemahkan dalam bentuk dua kalimat syahadat (asyhadu anla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammad rasulullah). Ungkapan (kalimat) ini adalah ungkapan tauhid (mengesakan) Allah. Ungkapan dasar yang menyatakan kecintaan dan kesaksian seorang hamba kepada Allah dan rasul-Nya. Seorang mukmin dan muslim tidak sah dinyatakan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya sebelum mengungkapkan dan mengikrarkan dua kalimat cinta (baca: syahadat) tersebut.
Tingkatan Kedua
Kedua, jika menyebut dan mengikrarkan sudah dilakuakan, maka akan naik pada tingkatan berikutnya yaitu perasaan rindu dan selalu ingin bermunajat kepada Allah yang terekspresikan dalam bentuk shalat lima waktu. Shalat dalam maknanya yang generik adalah “ingat” atau mengingat. Hal ini sebagaimana ditegaskan Allah “aqimis shalah li dzikri” (…dan dirikanlah shalat untuk mengingatku) [QS. Thaha ayat 14]. Seorang mukmin yang sejati ia akan selalu menunggu dan rindu dari satu shalat ke shalat yang lain, setelah Zhuhur ia akan rindu Ashar, setelah Ashar ia rindu Maghrib, setelah Magrib ia rindu Subuh, demikian seterusnya. Dan bahkan ia terkadang tidak merasa puas dengan perjumpaan lima waktu tersebut, sehingga ia cari waktu senggang lain agar ia lebih lama lagi beribadah kepada-Nya, maka ia carilah waktu Dhuha, Tahajjud, Witir, dan amalan-amalan lainnya.
Tingkatan Ketiga
Ketiga, dalam tingkatan selanjutnya, jika menyebut dan mengingat dalam hati sudah, bertemu (shalat)pun sudah, tingkatan selanjutnya adalah akan muncul ‘pengorbanan’. Ia tak segan dan tanpa pikir untuk memberikan harta kepada yang berhak dan membutuhkan. Inilah yang dalam agama Islam termanifestasikan dalam bentuk kewajiban zakat. Esensi zakat adalah membersihkan jiwa dan harta dalam rangka meraih ‘cinta’ Allah dengan memberikan sebahagian harta kepada yang berhak menerimanya.
Tingkatan Keempat
Keempat, jika berkorban dengan memberikan harta sudah dilakukan, perasaaan yang muncul berikutnya adalah selalu menerima apa adanya dan selalu tabah dan sabar terhadap berbagai ujian. Dalam Islam hal ini termanifestasikan dalam bentuk puasa. Puasa intinya adalah menahan, menahan dari segala sesuatu yang dilarang untuk dilakukan meskipun terasa sulit dan berat. Namun seorang pecinta sejati (Mukmin-Muslim) merasakan itu adalah sesuatu yang indah dan merupakan ujian dari Allah sehingga terasa nikmat sebab Allah sedang menguji seberapa besar keikhlasan dan kecintaannya kepada-Nya.
Tingkatan Kelima
Kelima, tingkatan terakhir, jika mengikrarkan dalam hati sudah, rindu dan bertemupun sudah, berkorban juga sudah, tabah dan sabarpun sudah. Dalam Islam, hal ini juga terwujud dalam ibadah menunaikan haji ke Baitullah. Sama diketahui betapa berat dan sulitnya untuk menuju rumah Allah tersebut, ditambah lagi begitu besarnya biaya perbekalan yang dibutuhkan dalam perjalanan, tak luput pula terkadang bahaya akan menghadang, pula tak ada jaminan akan kembali ke kampung halaman. Namun seorang Mukmin yang begitu besar cintanya kepada sang pemilik cinta (Allah) tak menghiraukan segala rintangan yang akan dihadapi. Ia dengan tegar tetap melangkah sambil mengucapkan “labbaik allahumma labbaik, labbaik la syarika laka labbaik, …” (Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah, tidak ada sekutu bagi-Mu, aku penuhi panggilan-Mu ya Allah… )










