IHSG Diawali dengan melemahnya perdagangan pada Kamis, 2 April 2026. Pada awal sesi I, IHSG tercatat berada di level 7153.114, atau turun sebesar 31.338 poin (0.44 persen). IHSG kembali menguat setelah kemarin ditutup naik 1,93 persen atau 136 poin ke level 7.184.
Kenaikan ini didorong oleh naiknya harga 475 saham, sementara 209 saham turun dan 135 saham lainnya tetap stabil. Sebelumnya, IHSG di Bursa Efek Indonesia (BEI) memang diperkirakan akan menguat pada Kamis, 2 April 2026. Penguatan ini melanjutkan tren positif dari penutupan sebelumnya, meski aliran keluar modal asing masih terlihat.
“IHSG berpotensi melanjutkan penguatan hari ini,” kata Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, Kamis, 2 April 2026. Menurut dia, di level support IHSG diperkirakan bergerak pada rentang 7.025-7.130 dan level resistansi pada rentang 7.200-7.300.
Sementara itu, pasar saham Amerika Serikat (AS) terangkat oleh harapan mundurnya Presiden AS, Donald Trump, dari perang melawan Iran. “Pada saat yang sama harga minyak dunia turun, yang mencerminkan ekspektasi berkurangnya risiko geopolitik,” ujar Fanny.
Indeks Dow Jones naik 0,48 persen, S&P 500 menguat 0,72 persen, dan Nasdaq Composite melonjak 1,16 persen. Sementara itu, harga minyak mentah WTI turun tipis 1,24 persen ke USD100,12 per barel, dan Brent melemah 2,7 persen menjadi USD101,16 per barel.
Harapan akan meredanya perang juga mendorong penguatan bursa saham di Asia-Pasifik. “Dolar AS juga melemah seiring meredanya permintaan aset safe haven,” ucap Fanny.
Pengamat pasar modal sekaligus pendiri Republik Investor, Hendra Wardana, mengatakan penguatan indeks saham sebenarnya mencerminkan sentimen pasar. Ia menilai lonjakan IHSG ke level 7.184 pada perdagangan Rabu, 1 April 2026, dipicu harapan meredanya konflik global.
Hendra menjelaskan, reli besar di bursa Asia dan Wall Street ikut memberi efek domino ke pasar domestik. Meski begitu, ia menekankan penguatan ini masih bersifat sementara karena belum ada kepastian soal berhentinya konflik antarnegara.
“Kenaikan IHSG hingga menembus level 7.184 pada perdagangan 1 April 2026 mencerminkan membaiknya sentimen global jangka pendek. Kondisi ini dipicu harapan deeskalasi konflik Timur Tengah serta efek domino reli bursa Asia dan Wall Street,” ujar Hendra di Jakarta, Kamis, 2 April 2026.
Hendra menyebut IHSG punya potensi untuk terus menguat hingga berada di kisaran 7.300–7.500. Menurutnya, kondisi ini bisa terwujud kalau ketegangan di Timur Tengah benar-benar mereda secara konsisten.
Ia juga menilai, turunnya harga minyak dunia bisa meringankan tekanan inflasi global dan membuka peluang penurunan suku bunga. Dalam skenario itu, Hendra memprediksi aliran dana asing bakal mengalir deras ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
“Jika skenario positif terjadi, yakni deeskalasi konflik dan meredanya ketegangan di Timur Tengah. IHSG berpotensi melanjutkan penguatan menuju kisaran 7.300 hingga 7.500 dalam jangka menengah,” kata Hendra.
Hendra menjelaskan, sektor perbankan, konsumer, properti, dan industri bakal jadi penggerak utama kenaikan pasar. Menurutnya, sektor-sektor ini paling sensitif terhadap stabilitas ekonomi dan kemungkinan penurunan suku bunga acuan.
Dia juga memperingatkan risiko koreksi tajam kalau IHSG turun di bawah level 7.000, terutama jika harapan perdamaian dunia belum terwujud. Lonjakan harga energi dan pelemahan rupiah, kata Hendra, bisa jadi kombinasi tekanan berat bagi pasar saham domestik.
“Namun sebaliknya, jika harapan deeskalasi tidak terkonfirmasi atau konflik kembali memanas. IHSG berpotensi terkoreksi dan bahkan turun ke bawah level 7.000 karena pasar masuk fase risk-off,” ucap Hendra.
Hendra menyarankan investor untuk mulai merotasi portofolio dengan mengurangi saham berbasis komoditas. Menurutnya, harga batu bara dan minyak biasanya kembali normal ketika risiko geopolitik global menurun.
Dia juga merekomendasikan saham perbankan, infrastruktur, dan properti sebagai pilihan utama, karena biaya dana berpotensi turun cukup signifikan. Hendra meyakini, aktivitas ekonomi domestik akan meningkat begitu kondisi dunia mulai stabil beberapa waktu ke depan.
“Oleh karena itu, pada fase rebound seperti saat ini, pasar dapat dimanfaatkan untuk melakukan rotasi portofolio. Investor dapat secara bertahap mengurangi saham komoditas dan mulai mengakumulasi saham yang sensitif terhadap penurunan suku bunga serta pemulihan ekonomi domestik,” kata Hendra.
Hendra menyebut saham MBMA masuk kategori trading buy dan bisa dicermati dengan target di 800. Ia juga memasukkan SRTG dalam daftar beli spekulatif dengan target harga 1.915.
Selain itu, Hendra menjelaskan strategi beli untuk saham BUMI dan NETV, dengan target masing-masing di level 280 dan 100.
Dia menekankan, meski pasar sedang berada di fase pemulihan, investor tetap harus waspada. Hendra mengingatkan agar semua pelaku pasar menjaga manajemen risiko, karena pergerakan indeks masih sangat dipengaruhi dinamika geopolitik global.
Kesimpulan
IHSG sempat melemah tapi kembali menguat terdorong sentimen positif global dan optimisme meredanya konflik Timur Tengah. Sektor perbankan, konsumer, properti, dan industri jadi penggerak utama.
Investor disarankan rotasi portofolio dari saham komoditas ke saham yang sensitif terhadap suku bunga dan pemulihan ekonomi, tetap waspada karena risiko geopolitik masih tinggi.


Komentar