Ruwaq tidak hanya menjadi pusat pendidikan bagi pelajar lokal Mesir, tetapi juga menjadi tempat berkumpulnya pelajar dari berbagai belahan dunia, termasuk dari Nusantara. Salah satu komunitas yang terkenal adalah “Ruwaq Jawa” atau Ruwaq al-Jawi, yaitu komunitas pelajar yang berasal dari wilayah Indonesia dan sekitarnya yang menuntut ilmu di Al-Azhar, Kairo.
Ruwaq Jawa dan Kehadiran Pelajar Nusantara
Ruwaq Jawa merupakan salah satu bagian dari kompleks ruwaq yang berada di antara ruwaq lainnya seperti Ruwaq Syawam dan Ruwaq Sulaimaniyah. Meskipun tidak diketahui secara pasti kapan pertama kali didirikan, keberadaan Ruwaq Jawa menunjukkan adanya komunitas pelajar Nusantara yang mulai menetap di Mesir. Pada awalnya, jumlah pelajar di Ruwaq Jawa relatif sedikit, diperkirakan hanya sekitar sepuluh orang. Hal ini disebabkan oleh terbatasnya akses transportasi dari Nusantara ke Mesir pada masa itu.
Salah satu tokoh yang dikaitkan dengan Ruwaq Jawa adalah Syaikh Nawawi al-Bantani, yang pernah mengunjungi komunitas tersebut. Kehadiran tokoh-tokoh seperti ini menunjukkan adanya jaringan keilmuan yang menghubungkan Nusantara dengan pusat-pusat ilmu di Timur Tengah.
Perkembangan Komunitas Jawi di Kairo
Pada awal abad ke-20, jumlah pelajar dari Nusantara yang datang ke Mesir mulai meningkat, terutama sejak tahun 1911 M. Para pelajar dari Sumatera Barat dan wilayah lainnya mulai berdatangan dan bergabung dalam komunitas Ruwaq al-Jawi. Pada sekitar tahun 1900 M, komunitas ini telah mencatat puluhan pelajar yang sebagian besar berasal dari Sumatera dan Semenanjung Melayu.
Perkembangan ini tidak terlepas dari dukungan tokoh-tokoh pembaru seperti Rasyid Ridha, yang turut membantu para pelajar dalam mendapatkan tempat tinggal dan akses pendidikan. Selain itu, pada tahun 1912, diterbitkan majalah al-Ittihad, yang menjadi media komunikasi dan informasi bagi komunitas pelajar Nusantara di Mesir.
Peran dan Pengaruh Komunitas Jawi
Komunitas Jawa di Mesir juga membentuk organisasi seperti Jam’iyyah al-Khairiyyah ath-Thalabah al-Azhariyyah al-Jawiyyah pada tahun 1922 M. Organisasi ini berperan dalam memberikan dukungan sosial dan kesejahteraan bagi para pelajar. Para lulusan Al-Azhar dari komunitas ini kemudian berperan penting dalam perkembangan Islam di Nusantara, khususnya dalam bidang pendidikan, dakwah, dan pembaruan pemikiran Islam.
Kesimpulan
Ruwaq Jawa menjadi simbol penting keterhubungan intelektual antara Nusantara dan dunia Islam, khususnya Al-Azhar di Mesir. Melalui komunitas ini, terjadi pertukaran ilmu, gagasan, dan jaringan keilmuan yang memberikan kontribusi besar bagi perkembangan Islam di Indonesia. Kehadiran komunitas Jawi menunjukkan bahwa tradisi rihlah ilmiah dan mobilitas pelajar telah memainkan peran penting dalam membentuk sejarah intelektual umat Islam secara global.


