Perkembangan ilmu falak di Nusantara tidak hanya dipengaruhi oleh perjalanan haji atau masuknya kitab-kitab dari Timur Tengah, tetapi juga oleh tradisi pendidikan Islam yang berlangsung di Haramain. Kawasan Haramain, yaitu Mekah dan Madinah, sejak lama dikenal sebagai pusat pembelajaran Islam bagi umat Muslim dari berbagai wilayah dunia, termasuk dari kepulauan Nusantara. Di tempat inilah para jamaah haji dan pelajar Muslim dari Nusantara mendapatkan kesempatan untuk memperdalam ilmu agama melalui sistem halaqah atau majelis ilmu yang dipimpin para ulama terkemuka.
Halaqah menjadi salah satu sarana utama transfer ilmu pengetahuan dari Timur Tengah ke dunia Melayu-Nusantara. Melalui proses pembelajaran inilah ilmu falak mulai dikenal, dipelajari, dan kemudian dikembangkan oleh para ulama Nusantara.
Tradisi Halakah dan Pembelajaran Ilmu Falak
Sistem halaqah di Haramain berlangsung secara terbuka dan fleksibel. Para pelajar dapat duduk melingkar di sekitar seorang guru untuk mendengarkan penjelasan, mencatat pelajaran, serta berdiskusi langsung mengenai berbagai disiplin ilmu Islam. Materi yang diajarkan sangat beragam, mulai dari tafsir, hadis, fikih, hingga ilmu falak.
Menariknya, para pelajar Nusantara tidak selalu mengalami kesulitan bahasa dalam mengikuti pembelajaran. Hal ini karena banyak ulama asal Nusantara yang telah lama menetap di Haramain dan mengajar menggunakan bahasa Melayu. Kondisi ini memudahkan para jamaah dan pelajar dari Nusantara untuk memahami materi yang diajarkan dengan lebih baik.
Di antara tokoh penting yang berperan dalam tradisi ini adalah Ahmad Khatib al-Minangkabawi dan Muhammad Mukhtar bin Atharid. Melalui majelis ilmu mereka, para pelajar memperoleh pengetahuan tentang teori dan praktik ilmu falak, seperti perhitungan arah kiblat, penentuan waktu salat, penggunaan instrumen astronomi, serta penyusunan kalender hijriah.
Kesimpulan
Halakah keilmuan di Haramain memiliki peran yang sangat besar dalam proses penyebaran ilmu falak ke Nusantara. Melalui bimbingan para ulama, khususnya ulama asal Nusantara yang mengajar di tanah suci, para jamaah dan pelajar memperoleh pemahaman keagamaan sekaligus pengetahuan astronomi Islam. Setelah kembali ke daerah asal, mereka menyebarkan ilmu tersebut melalui pesantren, surau, dan majelis ilmu. Dengan demikian, halaqah di Haramain menjadi salah satu pusat transmisi intelektual yang membentuk perkembangan ilmu falak di Nusantara.


Komentar