Pemanfaatan limbah batu bara jenis FABA dalam proyek pengaspalan jalan di Medan menjadi langkah konkret dalam menjawab isu lingkungan sekaligus kebutuhan pembangunan. Inovasi ini menunjukkan bahwa limbah industri yang sebelumnya dianggap tidak bernilai kini dapat diolah menjadi material konstruksi yang aman dan bermanfaat bagi masyarakat, Kamis (23/4/2026).
Perwakilan BMM Sumut, Budi Syahputra, menjelaskan bahwa penggunaan FABA telah melalui berbagai kajian dan kini berstatus sebagai limbah non-B3.
Ia menyebutkan bahwa pemanfaatan ini aman digunakan untuk kebutuhan konstruksi.
“FABA yang kami gunakan merupakan limbah non-B3 sehingga dapat dimanfaatkan oleh masyarakat,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa komposisi FABA dalam campuran aspal mencapai angka tertentu.
“Dalam proses pengaspalan ini, FABA digunakan sekitar 12 persen dari total material,” katanya.
Menurutnya, inovasi ini membuka peluang baru dalam pengelolaan limbah.
“Ini menjadi salah satu upaya pemanfaatan limbah agar memiliki nilai tambah,” ucapnya.
Manager PLN UPT Medan, Doni Andreas, juga menegaskan perubahan paradigma terhadap FABA.
“FABA ini sebelumnya dianggap limbah B3, namun setelah dikaji ternyata tidak beracun,” ujarnya.


Komentar