Sabtu, 1 Agustus 2026
Informasi Aktual
No Result
View All Result
  • BPJS
    • BPJS Kesehatan
    • BPJS Ketenagakerjaan
  • CPNS
    • PPPK
  • Info
    • Pendidikan
    • Ekonomi
  • Tips dan Panduan
  • Redaksi
  • Kesehatan
  • BPJS
    • BPJS Kesehatan
    • BPJS Ketenagakerjaan
  • CPNS
    • PPPK
  • Info
    • Pendidikan
    • Ekonomi
  • Tips dan Panduan
  • Redaksi
  • Kesehatan
No Result
View All Result
Medan aktual
No Result
View All Result

Garis Bujur dalam Konsepsi Klasik (Bagian 2)

AJR by AJR
30 April 2026
in Info
0
Garis Bujur dalam Konsepsi Klasik (Bagian 2)

Garis Bujur dalam Konsepsi Klasik (Bagian 2)

Pengetahuan masyarakat Arab mengenai garis bujur tidak berkembang secara terpisah, melainkan banyak dipengaruhi oleh tradisi astronomi India. Salah satu sumber penting pengaruh tersebut adalah teks Sindhind, yang merupakan adaptasi dari karya-karya astronomi India, terutama pemikiran Brahmagupta. Melalui karya ini, para ilmuwan Muslim memperoleh berbagai konsep mengenai perhitungan waktu, gerak benda langit, serta sistem koordinat bumi. Tradisi India saat itu meyakini bahwa garis pertengahan hari, yakni garis tempat matahari mencapai puncak langit pada siang hari, melintasi Pulau Lanka atau Sri Lanka yang dianggap sebagai pusat dunia.




Pandangan tersebut diterima dan diolah kembali oleh para ilmuwan Arab. Titik perpotongan antara garis katulistiwa dengan garis pertengahan hari itu dikenal dalam literatur Arab sebagai qubbah al-ardh atau Kubah Bumi. Istilah ini tidak selalu bermakna kubah secara fisik, melainkan menunjuk pada titik sentral bumi dalam sistem pemetaan klasik. Tempat itu diyakini memiliki jarak yang relatif seimbang ke arah timur, barat, utara, dan selatan, sehingga dipandang layak dijadikan pusat pengukuran.

Dari titik inilah para ahli falak India maupun Arab memulai perhitungan garis bujur bagi berbagai wilayah di permukaan bumi. Dengan menjadikan satu titik pusat sebagai acuan, mereka berusaha menyusun sistem koordinat yang dapat dipakai untuk menentukan lokasi kota, negeri, dan jalur perjalanan.



Kota Ujain dan Arin

Selain Pulau Lanka, garis bujur utama dalam tradisi India juga diyakini melintasi kota Ujain, sebuah pusat ilmu pengetahuan dan astronomi penting di India kuno. Kota ini dikenal luas sebagai tempat observasi langit dan pusat penyusunan tabel astronomi. Ketika istilah tersebut masuk ke dalam bahasa Arab, nama Ujain mengalami perubahan pengucapan menjadi Uzain, lalu berkembang menjadi Arin.

Dalam literatur geografi dan astronomi Islam klasik, Arin kemudian menjadi istilah yang sangat terkenal. Sebagian ilmuwan Arab memakainya bukan hanya sebagai nama tempat, tetapi juga sebagai lambang titik tengah dunia. Al-Jurjani, misalnya, mendefinisikan Arin sebagai lokasi pertengahan segala sesuatu, yaitu tempat yang seimbang antara timur dan barat, serta memiliki panjang siang dan malam yang sama.

Konsep ini menunjukkan bahwa geografi klasik tidak semata-mata berbicara tentang letak wilayah, tetapi juga memuat pandangan kosmologis tentang keteraturan alam semesta.



Kesimpulan

Konsep Kubah Bumi dan Arin memperlihatkan bagaimana ilmu geografi klasik menggabungkan pengamatan astronomi, letak geografis, dan keyakinan filosofis dalam satu kerangka pemikiran. Walaupun masih sederhana dibandingkan sistem modern, gagasan tersebut menjadi fondasi penting bagi perkembangan kartografi, navigasi, dan astronomi dalam peradaban Islam.

 

Tags: arinbujurlintang
Next Post
Konstelasi (Zodiak) di Era Modern dan Perkembangan Astronomi

Konstelasi (Zodiak) di Era Modern dan Perkembangan Astronomi

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Informasi terkini di Indonesia, Saldo Dana, Gopay, E Wallet, Informasi bantuan sosial, bantuan pendidikan, beasiswa dan desil serta informasi update lainnya

  • BPJS
  • CPNS
  • Info
  • Tips dan Panduan
  • Redaksi

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.