Pada abad ke-4 Hijriah atau abad ke-10 Masehi, muncul kelompok intelektual terkenal bernama Ikhwan ash-Shafa yang menyusun ensiklopedia ilmu pengetahuan berjudul Rasa’il Ikhwan ash-Shafa wa Khullan al-Wafa’. Dalam karya tersebut, astronomi menempati posisi penting sebagai bagian dari ilmu filsafat rasional. Mereka menyebut astronomi dengan istilah ‘ilm an-nujum, yaitu ilmu yang mengkaji benda-benda langit, orbit, planet, dan zodiak beserta ukuran, jarak, susunan, kecepatan gerak, serta hubungan antarbagian alam semesta.
Ikhwan ash-Shafa membagi ilmu ke dalam tiga kelompok besar, yaitu ilmu matematika (ar-riyadhiyyat), ilmu syariah konvensional (asy-syar’iyyah al-wadh’iyyah), dan ilmu filsafat hakiki (al-falsafiyyah al-haqiqiyyah). Dalam sistem ini, astronomi masuk ke dalam cabang matematika bersama aritmetika, geometri, dan musik. Penempatan tersebut menunjukkan bahwa astronomi dipandang sebagai ilmu eksak yang bertumpu pada angka, pengukuran, dan ketelitian. Karena itu, astronomi menjadi penghubung antara ilmu empiris dan filsafat kosmologi.
Ilmu Miqat sebagai Astronomi Praktis
Selain astronomi teoretis, dalam peradaban Islam berkembang pula cabang ilmu praktis yang disebut miqat atau mîqât, yang berarti waktu. Ilmu ini berkaitan dengan penentuan waktu salat, arah kiblat, serta perhitungan awal bulan hijriah. Para ahli miqat biasanya bertugas di masjid besar atau lembaga keagamaan dan dikenal dengan sebutan muwaqqit, yaitu penentu waktu.
Ilmu miqat menunjukkan bahwa astronomi dalam Islam tidak hanya berkembang sebagai teori tentang langit, tetapi juga memiliki manfaat langsung dalam kehidupan umat. Pengamatan terhadap matahari, bulan, dan posisi geografis digunakan untuk kepentingan ibadah sehari-hari. Di Indonesia, cabang ini sering disebut falak syar’i, meskipun istilah tersebut tidak sepenuhnya tepat. Tradisi miqat membuktikan bahwa astronomi Islam mampu memadukan ilmu pengetahuan dengan kebutuhan sosial dan keagamaan.
Kesimpulan
Hierarki astronomi menurut Ikhwan ash-Shafa menempatkan astronomi sebagai bagian penting dari ilmu matematika dan filsafat rasional. Sementara itu, ilmu miqat memperlihatkan penerapan praktis astronomi dalam kehidupan beragama. Keduanya menunjukkan bahwa dalam peradaban Islam, astronomi berkembang sebagai perpaduan antara teori ilmiah, ketelitian matematis, dan manfaat nyata bagi masyarakat.


Komentar