Setelah menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh, bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah hampir berakhir.Umat Islam kini tengah mempersiapkan diri menyambut hari kemenangan, Idul Fitri 2026, dengan rasa syukur dan sukacita.
Hitung mundur menuju 1 Syawal 1447 Hijriah pun semakin terasa. Berdasarkan kalender Hijriah 2026 yang diterbitkan oleh Kementerian Agama (Kemenag) Indonesia, hari raya Idul Fitri diperkirakan jatuh pada 21-22 Maret 2026.
Dengan acuan tanggal Selasa, 17 Maret 2026, berarti umat Islam masih memiliki waktu sekitar empat hari untuk menunaikan ibadah terakhir di bulan Ramadhan sebelum menyambut hari kemenangan.
Penetapan Hari Raya Oleh Pemerintah
Pemerintah masih menunggu hasil sidang isbat untuk menentukan 1 Syawal 1447 Hijriah atau hari raya Idul Fitri 2026. Sidang isbat dijadwalkan berlangsung pada 19 Maret 2026, bertepatan dengan 29 Ramadhan 1447 Hijriah, di Auditorium H.M. Rasjidi, Kantor Kementerian Agama, Jakarta, mulai pukul 16.00 WIB.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag, Abu Rokhmad, menyatakan bahwa keputusan sidang isbat akan didasarkan pada data hisab dan hasil rukyat yang sudah diverifikasi.
Sidang ini melibatkan berbagai pihak, termasuk pakar astronomi dari BMKG, BRIN, planetarium, observatorium, dan perwakilan organisasi kemasyarakatan Islam. Jika hasil sidang sesuai dengan kalender Hijriah yang diterbitkan Kemenag, maka Lebaran 2026 masih sekitar empat hari lagi sejak hari ini, Selasa (17/3/2026).
Ketetapan Muhammadiyah
Berbeda dengan pemerintah, Muhammadiyah telah menetapkan 1 Syawal 1447 Hijriah. Menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal, Pimpinan Pusat Muhammadiyah menentukan bahwa Lebaran 2026 jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026.
Ketetapan ini tercantum dalam Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 2/MLM/I.0/E/2025 tentang Penetapan Hasil Hisab Ramadhan, Syawal, dan Zulhijah 1447 Hijriah.
Dengan perhitungan tersebut, jika dihitung dari Selasa (17/3/2026), umat Islam yang mengikuti ketetapan Muhammadiyah masih memiliki waktu sekitar tiga hari menuju Lebaran.
Potensi Perbedaan Dan Imbauan MUI
Perbedaan tanggal bisa saja terjadi karena Indonesia memiliki sejarah adanya variasi penentuan awal bulan Hijriyah.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengimbau umat Islam untuk menunggu hasil keputusan sidang isbat pemerintah pada 19 Maret 2026.
Wakil Ketua Umum MUI, Cholil Nafis, menjelaskan bahwa penetapan awal Syawal tetap mengacu pada hasil rukyat di lapangan dan keputusan sidang isbat.
Menurut Cholil, fenomena ijtima atau pertemuan matahari dan bulan pada 29 Ramadhan terjadi pukul 08.25 WIB.
Saat matahari terbenam, hilal sudah berada di atas ufuk, meski posisinya masih rendah. “Kondisi paling tinggi berada di Aceh karena posisi hilal terbaik di Indonesia ada di Aceh, dengan tinggi sekitar 2°51′ dan elongasi sekitar 6°09’,” jelasnya.
Secara teoritis, hilal memiliki kemungkinan terlihat, tetapi sangat tipis. Indonesia kini menggunakan standar imkanur rukyat MABIMS, yang mensyaratkan minimal tinggi hilal 3° dan elongasi 6,4° agar secara ilmiah dianggap layak terlihat.
Dengan tinggi hilal 2,51° dan elongasi 6,09° di Aceh, peluang pengamatan masih terbatas. Para perukyat tetap melakukan pengamatan, namun kemungkinan terlihatnya sangat kecil. Oleh karena itu, masyarakat diimbau saling menghormati jika terjadi perbedaan dalam penentuan hari raya.
Kesimpulan
Semoga informasi ini bermanfaat bagi umat Islam dalam mempersiapkan diri menyambut Idul Fitri 2026.
Sumber Referensi
- https://www.kompas.com/tren/read/2026/03/17/210000265/hitung-mundur-lebaran-2026-adakah-potensi-perbedaan-?page=2










