Peristiwa Isra’ Mi’raj merupakan salah satu kejadian paling luar biasa dalam sejarah Islam yang melampaui batas logika manusia. Perjalanan Nabi Muhammad Saw. ini tidak hanya memiliki dimensi spiritual yang tinggi, tetapi juga memunculkan berbagai pertanyaan di era modern, terutama dalam perspektif sains. Oleh karena itu, memahami Isra’ Mi’raj memerlukan pendekatan yang tidak hanya berbasis akal, tetapi juga keimanan terhadap hal-hal gaib.
Pengertian Isra’ Mi’raj
Secara bahasa, Isra’ berarti perjalanan malam hari, sedangkan Mi’raj berarti naik atau tangga menuju tempat yang lebih tinggi. Secara istilah, Isra’ adalah perjalanan Nabi Muhammad Saw. dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha dalam satu malam. Sementara Mi’raj adalah perjalanan lanjutan beliau dari Masjidil Aqsha menuju langit hingga Sidratul Muntaha, tempat beliau menerima wahyu langsung dari Allah Swt.
Peristiwa ini dijelaskan dalam Al-Qur’an, di antaranya dalam QS. Al-Isra’ ayat 1 dan QS. An-Najm ayat 13–18, yang menegaskan kebenaran perjalanan tersebut sebagai bagian dari tanda-tanda kebesaran Allah.
Isra’ Mi’raj Menurut Syariat dan Sains
Dalam perspektif syariat, Isra’ Mi’raj diyakini sebagai peristiwa nyata yang terjadi atas kehendak Allah Swt., baik secara jasmani dan ruhani, meskipun terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama. Peristiwa ini termasuk wilayah gaib yang tidak harus dibuktikan secara empiris, melainkan diyakini berdasarkan wahyu.
Namun, dalam perspektif sains modern, peristiwa ini sering dikaitkan dengan konsep kecepatan tinggi dan relativitas waktu. Teori relativitas menjelaskan bahwa waktu dapat mengalami pemuluran (dilatasi) ketika suatu objek bergerak mendekati kecepatan cahaya. Hal ini memungkinkan perbedaan persepsi waktu antara pelaku perjalanan dan orang yang ditinggalkan. Isyarat serupa dapat ditemukan dalam Al-Qur’an, seperti dalam QS. Al-Ma’arij ayat 3–4 yang menyebutkan perbedaan skala waktu antara manusia dan makhluk lain.
Selain itu, sebagian pemikir mencoba menjelaskan Isra’ Mi’raj melalui konsep dimensi ekstra dalam fisika modern. Dalam teori ini, alam semesta tidak hanya terdiri dari empat dimensi (ruang dan waktu), tetapi juga dimensi lain yang tidak terjangkau oleh indera manusia. Dengan konsep ini, perjalanan Nabi Saw. dipahami sebagai perpindahan ke dimensi yang lebih tinggi, sehingga memungkinkan perjalanan luar biasa tersebut terjadi dalam waktu singkat. Meski demikian, pendekatan sains tetap memiliki keterbatasan dalam menjelaskan realitas spiritual seperti Sidratul Muntaha.
Kesimpulan
Isra’ Mi’raj adalah peristiwa yang mengandung dimensi spiritual dan ilmiah sekaligus, namun tidak sepenuhnya dapat dijelaskan oleh akal manusia. Syariat menegaskan kebenarannya sebagai mukjizat, sementara sains hanya dapat mendekatinya melalui teori seperti relativitas dan dimensi ekstra. Dengan demikian, pemahaman yang seimbang antara iman dan ilmu menjadi kunci dalam memaknai peristiwa ini secara utuh.










