Heliosentris adalah sebuah konsepsi tentang alam semesta (tata surya) yang menyatakan bahwa matahari adalah pusat tata surya. Sementara itu geosentris adalah sebaliknya yaitu sebuah konsepsi yang menyatakan bahwa bumi adalah sebagai pusat tata surya. Namun dalam faktanya konsepsi heliosentris adalah yang paling logis dan menjadi pandangan para saintis era klasik dan modern.
Penemuan Ilmuwan Muslim
Dalam sejarah diketahui konsepsi heliosentris telah diyakini dan banyak disinggung oleh ilmuwan-ilmuwan Muslim dalam sepanjang sejarah seperti Al-Biruni, Al-Thusi, dan Ibn Syathir. Namun demikian diskursus hal ini hingga kini terus berlanjut dan tampak belum usai, masing-masing memiliki pandangan dan argumen masing-masing. Kalangan heliosentris berargumen bahwa Matahari adalah pusat tata surya, dan Bumi serta planet-planet lain mengorbitnya, yang menentang pandangan geosentris.
Teori heliosentris di era modern dipopulerkan oleh Copernicus, yang didukung oleh bukti astronomis seperti fase Venus, pergerakan planet retrograd, dan kesederhanaan matematis dalam menjelaskan pergerakan benda langit. Sementara itu argumen geosentris (Teori Ptolemaik) berargumen dengan pandangan kuno yang menempatkan Bumi sebagai pusat alam semesta, di mana Matahari, bulan, bintang, dan planet-planet mengelilinginya. Di era klasik, pandangan ini didukung oleh filsuf Yunani seperti Aristoteles dan Ptolemaeus, yang mana teori ini meyakini Bumi diam karena pengamatan visual sehari-hari serta kurangnya bukti fisik pergerakan Bumi.
Namun dalam rekonstruksi kajian astronomi ditemukan bahwa konsepsi heliosentris sesungguhnya telah diungkap oleh ilmuwan-ilmuwan (astronom-astronom) Muslim di peradaban Islam. Tokoh-tokoh yang disebutkan sebelumnya (Al-Biruni, Al-Thusi, Ibn Syathir) adalah tokoh-tokoh yang telah memiliki telaah komprehensif kajian heliosentris. Artinya tokoh-tokoh ini sesungguhnya lebih dulu mengkaji dan merumuskan konsepsi heliosentris ketimbang Copernicus.
Kesimpulan
George Saliba, seorang profesor sejarah sains Islma di “Columbia University” dalam karyanya yang berjudul “slamic Science and the Making of the European Renaissance” mengemukakan diskursus klasik-kontemporer tentang Copernicus dan reformasi heliosentrisnya. Tentang hal ini Saliba mengajukan pertanyaan retorik, apakah Copernicus dengan gagasan astronominya–yang memiliki kemiripan astronomis dengan gagasan sarjana-sarjana astronomi muslim peradaban Islam–mampu (fasih) membaca teks Arab?
Jawabannya tentu tidak. Menjelaskan hal ini, Saliba mengemukakan beberapa hipotesis, diantaranya Saliba meyakini melalui Guillaume Postel (w. 1581 M), seorang pemikir Prancis abad 16 M yang memiliki kecakapan bahasa Arab, berperan membantu Copernicus menelaah teks-teks astronomi Arab. Hipotesis lain, Copernicus dengan baik menelaah peninggalan instrumen-instrumen astronomi hasil kreasi ilmuwan Arab, dengan itu Copernicus mampu merumuskan teori-teorinya.










