Nabi kita Muhammad Saw, sang panutan umat, dalam kehidupan sehari-hari senantiasa mengajarkan cinta dalam kehidupan, bahkan baginda Nabi Saw adalah seorang manusia yang penuh dengan cinta, yaitu cinta kepada Allah dan umatnya. Tutur dan perbuatan baginda Nabi Saw menjadi pedoman dan petunjuk bagi sahabat-sahabatnya.
Salah satu pedoman itu adalah tentang cinta, yaitu cinta kepada Allah Swt. Bahkan cinta Nabi Saw mencakup seluruh alam. Hal ini terekam dalam salah satu ayat al-Qur’an yang menyatakan “wama arsalnaka illa rahmatan lil ‘alamin” yang artinya “Kami tidak mengutusmu melainkan untuk menebar kasih sayang diseluruh alam” (QS. Al-Anbiya’ayat 107). Ayat ini secara tegas menyatakan bahwa kehadiran baginda Nabi Saw di permukaan bumi ini adalah guna menebar rahmat (cinta) bagi segenap makhluk.
Cinta Ilhai
Agama Islam sendiri sejatinya memiliki kerangka metodologis tentang cinta kepada Allah. Ada sejumlah realisasi cinta dalam Islam yang apabila dapat terwujud dan teraplikasikan dalam kehidupan manusia maka sesungguhnya ia telah meraih cinta ilahi. Esensi cinta ilahi tidak lain adalah menjalankan perintah-Nya dan menajuhi larangan-Nya. Perintah yang dimaksud adalah berupa ibadah yang telah tegas diperintahkan seperti salat, puasa, zakat, haji, dan lain-lain. Demikian lagi ibadah yang bersifat personal dan sosial seperti membantu orang lain, membangun masjid dan tempat sosial, dan lain-lain.
Hakikat Cinta Ilahi
Hakikat cinta dalam Islam sejatinya akan terasa begitu indah jika dilakukan dengan benar dan ikhlas. Cinta kepada Allah yang tulus manakala dilakukan dengan baik, disamping ibadah-ibadah lainnya, maka agaknya kita telah mendapat jaminan untuk mendapat cinta hakiki dan ridha dari sang khalik, Allah Swt.
Dalam sejarah, tak sedikit ulama yang senantiasa mengkhususkan hidupnya untuk ber ibadah kepada Allah untuk meraih cinta-Nya, sebut saja sebagai misal Ibn al-Qayyim al-Jauzi (w. 597 H). Bila kita tilik karya-karya beliau senantiasa bernuansa hikmah dan ibadah kepada Allah, ia banyak berbicara tentang sabar, tawakkal, qana’ah, ridha, cemas-harap, dan lain-lain.
Kesimpulan
Salah satu diantara karya Ibn al-Qayyim adalah “Raudhatul Muhibbin” (Taman orang-orang yang sedang kasmaran). Dalam karyanya tersebut ia menjelaskan beberapa tanda-tanda orang yang sedang diliputi rasa cinta kepada Alllah, antara lain: memiliki sifat dan sikap cemburu yaitu ekspresi lewat fastabiqul khairat (saling berlomba dalam kebajikan).
Ia tidak mau tersaingi dengan orang yang banyak melakukan ibadah. Selanjutnya bergetar hatinya apabila disebut nama Allah yang diekspresikan lewat kelembutan hati. Allah berfirman, “Sesungguhnya orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah bergetar hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah keimanan mereka” (QS.Al-Anfal ayat 2). Semoga kita menjadi orang-orang yang mencintai dan dicintai oleh Allah Swt, amiin.










