Ramadhan adalah bulan kesembilan dalam penanggalan Islam (Kalender Hijriah). Dalam terminologi bahasa Arab, kata ‘Ramadhan’ berasal dari kata ramdhā’ yang bermakna panas terik. Dinamakan demikian adalah oleh karena ketika itu sedang terjadi musim panas yang amat terik. Dalam perjalanannya, ada banyak peristiwa yang terjadi di bulan Ramadhan seperti dituturkan Al-Qazwainy dalam karyanya “’Aja’ib al-Makhluqat wa Ghara’ib al-Maujudat”.
Beberapa peristiwa penting yang pernah terjadi di bulan Ramadhan antara lain diturunkannya Shuhuf Ibrahim, diturunkannya al-Qur’an kepada Nabi Saw, diturunkannya Taurat kepada Nabi Musa, diturunkannya Injil kepada Nabi Isa, terjadinya penaklukan kota Mekah, terjadinya malam Lailatul Qadr (menurut satu pendapat), terjadinya perang Badar, dan lain-lain.
Esensi Ibadah Puasa
Bagi umat Islam, bulan Ramadhan identik dengan ibadah puasa, betapapun tradisi berpuasa itu sudah ada sejak jauh sebelum agama Islam hadir. Dalam konteks sosial, tujuan tertinggi berpuasa adalah menuju dan atau meraih derajat takwa (muttaqi). Dalam praktiknya, adakalanya seorang Muslim berpuasa bukan karena Allah semata, namun disusupi niat yang lain yang bersifat duniawi.
Secara keimanan, bulan Ramadhan adalah bulan yang sungguh mulia, sesuai sabda Baginda Nabi Saw bahwa puasa itu akan mampu menghapus dosa-dosa seorang hamba yang telah lalu. Demikian mulia dan agungnya ibadah puasa dan bulan Ramadhan ini, menjadikan kehadirannya setiap tahun amat dinanti.
Secara generik, puasa adalah salah satu ibadah penting dalam Islam, sedangkan puasa wajib yang paling utama adalah puasa Ramadhan. Tujuan utama puasa adalah untuk mengantar seseorang menjadi insan yang bertakwa (muttaqi, la’allakum tattaqun) [QS. Al-Baqarah [2]: 183], yaitu suatu predikat spiritual yang dinamis dan progresif, bukan statis, apalagi represif.
Karakteristik muttaqi (bertakwa) adalah progresivitas.
Dalam praktiknya, ibadah puasa dimulai dengan imsak (menahan diri atau mengendalikan diri), dan bahkan puasa itu identik dengan upaya menahan diri dari segenap perbuatan, perilaku, dan ucapan yang tidak sesuai dengan petunjuk al-Qur’an dan as-Sunnah.
Dengan demikian puasa memiliki posisi tawar strategis dalam upaya pemulihan masalah-masalah pribadi dan masalah-masalah masyarakat (sosial) yang muncul sebagai akibat dari kebebasan yang kebablasan, dimana setiap orang dapat mengemukakan pendapat tanpa mempertimbangkan etika kolektif.
Kesimpulan
Karena itu puasa yang ideal dan produktif adalah puasa yang dapat menghadirkan maslahat (manfaat) baik kepada diri pribadi dan masyarakat. Puasa yang berkualitas juga ditunjukkan dengan peningkatan spiritualitas orang yang berpuasa, yaitu aktivitas yang bertambah namun tidak melupakan aspek-aspek sosial kehidupan sehari-hari.










