Buku “Falsafah at-Ta’wil; Dirasah fi Ta’wil al-Qur’an ‘inda Muhyiddin Ibn ‘Arabi” karya Nasr merupakan karya ilmiah setebal 427 halaman yang diterbitkan oleh Markaz as-Tsaqafah al-‘Arabiy di Maroko (cetakan kelima, 2003). Buku ini dibagi menjadi tiga bab utama yang diawali dengan dua bagian pengantar, yaitu muqaddimah (hal. 5–9) dan tamhid (hal. 11–42). Pada bab pertama, Nasr membahas hubungan antara ta’wil (interpretasi) dan eksistensi (wujud), dengan berbagai subtema yang mengkaji perspektif filosofis dan modernitas.
Dalam pengantar, Nasr menjelaskan bahwa karyanya ini merupakan kelanjutan dari penelitian sebelumnya tentang rasionalitas dalam tafsir, khususnya dalam kajian majaz menurut Mu’tazilah. Namun, dalam buku ini, ia mengambil posisi yang lebih berani dengan menekankan pentingnya ta’wil dalam memahami Al-Qur’an. Ia mengkritik sikap taqlid terhadap tafsir klasik dan menganggapnya sebagai bentuk pengingkaran terhadap potensi akal manusia. Bahkan, ia secara tegas mengkritik tokoh seperti Ibn Taimiyah dan Ibn al-Qayyim yang dianggapnya menolak peran ta’wil secara luas.
Nasr menegaskan bahwa setiap penafsiran pasti mengandung unsur ta’wil. Ia mencontohkan praktik ta’wil yang dilakukan oleh Ibn Abbas, yang dikenal sebagai “penerjemah Al-Qur’an”, serta didukung oleh doa Nabi Muhammad Saw. agar beliau diberi pemahaman agama dan kemampuan dalam ta’wil. Dengan demikian, Nasr ingin memperluas legitimasi ta’wil sebagai metode penting dalam memahami teks suci.
Isi Buku
Fokus utama buku ini adalah pemikiran Ibn ‘Arabi tentang ta’wil. Nasr memandang Ibn ‘Arabi sebagai tokoh sentral yang menjembatani antara sufisme dan filsafat. Menurutnya, ta’wil dalam perspektif Ibn ‘Arabi bukan sekadar alat memahami teks, tetapi merupakan pendekatan filosofis untuk memahami realitas (wujud) itu sendiri. Dalam hal ini, konsep wahdatul wujud menjadi inti pemikiran Ibn ‘Arabi, yaitu bahwa hanya Allah yang memiliki wujud mutlak, sementara wujud selain-Nya bersifat relatif dan bergantung pada-Nya.
Kesimpulan
Nasr juga mengakui adanya problematika dalam pemikiran ini, terutama terkait posisi makhluk dalam hubungannya dengan Wujud Mutlak. Meskipun demikian, ia berusaha membela dan menafsirkan pemikiran Ibn ‘Arabi secara lebih proporsional, terlepas dari berbagai kritik keras yang pernah diarahkan kepadanya.
Secara keseluruhan, buku ini menampilkan ta’wil sebagai tema filosofis yang mendalam dan terus актуal, karena berkaitan langsung dengan pertanyaan mendasar tentang eksistensi, makna, dan tujuan hidup manusia.










