Sejak abad ke-15 hingga akhir abad ke-19 Masehi, Haramain—yaitu Makkah dan Madinah—tidak hanya menjadi pusat ibadah haji, tetapi juga pusat ilmu pengetahuan. Dua kota suci ini menjadi tujuan utama bagi para pelajar dan ulama dari berbagai belahan dunia, termasuk Nusantara. Tradisi menunaikan ibadah haji sekaligus menuntut ilmu menjadi praktik yang lazim dan sangat penting dalam sejarah intelektual Islam. Keberadaan para ulama dan halaqah ilmu di Haramain menjadikan kedua kota ini sebagai simpul pertemuan berbagai tradisi keilmuan Islam dari berbagai wilayah.
Haji dan Tujuan Ilmiah
Bagi para pelajar Nusantara, kunjungan ke Haramain memiliki dua tujuan utama: menunaikan haji dan mendalami ilmu agama. Selama berada di Makkah dan Madinah, mereka tidak sekadar menjalankan ibadah ritual, tetapi juga mengikuti halakah-halakah ilmu yang tersebar di seluruh kota suci. Guru-guru (syaikh) yang mengajar di Haramain dikenal memiliki kompetensi tinggi, sehingga banyak pelajar Nusantara memilih menetap dalam waktu cukup lama demi memperdalam ilmu. Interaksi langsung dengan para ulama ini memberikan pengalaman akademik dan spiritual yang mendalam, serta membentuk karakter keilmuan yang kuat.
Sebaliknya, masyarakat biasa yang hanya berangkat untuk menunaikan haji fokus pada rangkaian ibadah, ziarah ke makam Nabi ﷺ, gua Hira, Jabal Rahmah, dan kemudian kembali ke tanah air setelah selesai. Hal ini menunjukkan adanya perbedaan fokus dan motivasi antara pelajar/ulama dengan jamaah biasa. Meski berbeda tujuan, keduanya tetap berada dalam kerangka ibadah yang sama, yakni mendekatkan diri kepada Allah Swt.
Rihlah Ilmiah Nusantara
Tradisi menuntut ilmu ke Haramain ini merupakan bagian dari praktik rihlah ilmiah, yakni perjalanan untuk menimba ilmu dari guru yang lebih kompeten. Seperti dikemukakan Hasan Asari, istilah rihlah ilmiah mencakup perjalanan yang direncanakan untuk tujuan belajar maupun perjalanan biasa yang berkaitan dengan aktivitas intelektual. Nusantara memiliki tradisi panjang dalam praktik ini, yang menekankan pentingnya mobilitas pelajar untuk memperoleh ilmu. Tradisi ini juga memperkuat semangat pencarian ilmu yang tidak terbatas oleh wilayah geografis.
Meskipun situasi sosial-politik di Nusantara tidak selalu kondusif, hasrat masyarakat, pelajar, dan ulama untuk pergi ke Haramain tetap tinggi. Mereka rela menempuh perjalanan jauh dan menanggung biaya yang tidak sedikit demi mengakses pusat ilmu di Makkah dan Madinah. Pengorbanan tersebut mencerminkan tingginya komitmen terhadap ilmu dan agama.
Kesimpulan
Haji dan rihlah ilmiah di Haramain menunjukkan keterkaitan erat antara ibadah spiritual dan pengembangan ilmu pengetahuan. Tradisi ini memperkuat hubungan sosial-intelektual antara Nusantara dan Timur Tengah serta membentuk jaringan ulama internasional. Aktivitas ini menjadi fondasi penting bagi perkembangan pendidikan dan pemikiran Islam di tanah air, sekaligus menunjukkan tingginya dedikasi pelajar Nusantara dalam menuntut ilmu.










