Instrumen astronomi merupakan sarana observasi utama untuk mengungkap fenomena langit. Ia juga merupakan unsur penting untuk berdiri dan beroperasinya sebuah observatorium. Di peradaban Islam, instrumen astronomi lebih berfungsi pada kepentingan-kepentingan praktis terkait penentuan waktu-waktu ibadah, khususnya salat dan puasa. Dalam penentuan waktu salat, al-Qur’an dan as-Sunnah menitahkan untuk mengamati secara terus-menerus pergerakan Matahari di cakrawala. Pengamatan terus-menerus ini pada akhirnya menginspirasi para ilmuwan Muslim untuk menciptakan instrumen-instrumen tertentu guna mendeteksi pergerakan Matahari. Untuk tujuan ini maka lahirlah instrumen yang bernam rubu mujayyab, astrolabe, mizwala, jam istiwak, dan lain-lain. Betapapun sesungguhnya instrumen-instrumen ini telah ada sejak lama, namun kehadirannya di peradaban Islam yang berfungsi untuk kepentingan ibadah memiliki corak yang khas dan memiliki perbedaan signifikan pada model-model sebelumnya.
Sementara itu, dalam penentuan puasa dan hari raya, hadis-hadis baginda Nabi Saw memberi rumusan–sesuai situasi sosio-historis dan geografis waktu itu–dengan terlihatnya bulan sabit di ufuk barat. Menjadi ketetapan syariat bahwa hilal (bulan sabit) merupakan standar ibadah dan aktifitas manusia–khususnya umat Islam–dalam kehidupan sehari-hari. Al-Qur’an sendiri mempertegas fungsi ini, bahwa bulan sabit merupakan pertanda waktu bagi manusia dan ibadah haji. Penegasan al-Qur’an akan fungsi hilal dan ditambah dengan praktik para sahabat pada akhirnya memberi inspirasi bagi para ilmuwan Muslim untuk mengonstruksi instrumen-instrumen penjejak hilal, diantaranya lahirlah–dengan segenap adaptasi dan modifikasinya–instrumen-instrumen seperti rubu mujayyab dan astrolabe. Instrumen astrolabe sendiri diakui menjadi jalan bagi munculnya instrumen modern bernama teleskop.
Tokoh Instrumen Astronomi
Tokoh terpopuler pada abad pertengahan yang dikenal memiliki kontribusi besar di bidang ini adalah astronom Muslim asal Mesir bernama Ibn Haitsam (w. 430/1038). Salah satu karyanya yang dikenal luas di Barat dan di Timur adalah “al-Manāzhir”. Dalam karyanya ini Ibn Haitsam memberi rumusan teoretis dan praktis tentang pencahayaan, selain juga ia memiliki kontribusi berupa konstruksi instrumen teleskop.
Dalam konteks lebih luas, instrumen astronomi memiliki arti penting bagi pengembangan keilmuan serta dalam rangka menggali nalar saintifik peradaban Islam. Seperti dikemukakan di atas, bahwa kontribusi penting para astronom Muslim abad pertengahan adalah pendirian observatorium yang didukung dengan aktifitas observasi yang masif. Observasi sendiri dilakukan guna mendapatkan informasi akurat. Melalui praktik-praktik observasi inilah pada akhirnya melahirkan sejumlah instrumen yang terus berkembang dengan segenap adaptasi dan modifikasinya.
Kesimpulan
Dalam kenyataannya, instrumen-instrumen astronomi memiliki pengaruh besar bagi kemajuan peradaban sebuah bangsa. Maju dan berkembangnya kajian astronomi di suatu bangsa sejatinya dapat dilihat dari instrumen-instrumen yang dihasilkan. Betapa ia merupakan sarana utama dalam membaca dan menerjemahkan alam raya guna merenungi ciptaan-Nya.
Sejatinya lagi, instrumen-instrumen astronomi adalah bentuk konkret kontribusi ilmuwan Muslim silam yang sangat berharga dan memiliki pengaruh besar bagi kemajuan peradaban Islam silam.

