Firman Allah SWT, “Demi masa(1), Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian(2), Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran(3)”. (QS. Al ‘Ashr : 1-3).
3 Fase Kehidupan
Ada tiga rancangan (fase) Kehidupan Nabi Saw selama 63 tahun. Tiga fase ini patut menjadi renungan umat Islam hari ini. Fase pertama, usia 0–40 Tahun (masa sebelum diangkat menjadi Rasul). Fase kedua, usia 40–53 tahun (masa kenabian pertama di Mekah). Fase ketiga, usia 53–63 tahun (masa kenabia kedua sampai wafat di Madinah).
Fase Pertama
Fase pertama: Nabi Saw hidup di padang pasir dan menyusu selama 4 tahun, kondisi ini membentuk kesehatan dan kefasihan berbahasa (kekuatan intelektual dan emosi dan kekuatan fisik dan mental. Usia 4 tahun, dadanya dibelah oleh dua malaikat guna mencabut unsur syetan dalam diri. Usia 6 tahun, ibunya tercinta Aminah wafat, kemudian pindah bersama kakeknya Abdul Muthalib (6-8 thn) selama itu ia hadir dalam rapat-rapat pemimpin Quraisy, dan ini menjadi pengalaman politik. Usia 8 tahun, Abdul Muthalib wafat, ia pindah bersama pamannya Abu Thalib, bekerja sebagai penggembala kambing, dan ini menjadi pengalaman bekerja (mencari nafkah). Usia 12 tahun, ia melakukan lawatan internasional melalui kunjungan bisnis ke Syria bersama pamannya. Usia 15-19 tahun, Nabi Saw terlibat dalam perang fijar yang menjadi pengalamam militer. Usia 20 tahun, terlibat perundingan diplomasi atas kubu-kubu yang berperang ( pengalaman diplomasi).
Usia 20-25 tahun, bekerja sebagai karyawan Khadijah, ia terlalu baik dan jujur membuat Khadijah bangga dan kagum sekaligus jatuh cinta (nikah). Usia 35 tahun, mendapat gelar al Amin (sang terpercaya) ketika bangunan Ka’bah runtuh akibat banjir, orang-orang Quraisy berselisih untuk mengangkat/meletakkan Hajar al aswad, dalam hal ini Nabi Saw tampil sebagai problem solver. Lalu pada usia 37-40 tahun, ketika situasi masyarakat tidak menentu, ia meyendiri (bermeditasi/tahannuts/I’tikaf) di gua Hira dan menerima wahyu pertama (saat itu bulan Agustus (musim panas) ia minta diselimuti, menunjukkan betapa hebatnya ketakutan manusiawi beliau hingga beliau menggigil), dan sejak itu jadwal beliau semakin padat.
Fase Kedua
Fase kedua: Hidup di Mekah selama 13 tahun membina masyarakat muslim yang berketuhan dan berperadaban, 3 tahun pertama dakwah terbatas menghasilkan sekitar 60 orang (as sabiqunal awwalun). Pasca tahun ketiga, turun perintah dakwah secara umum (mengalami gelombang peristiwa dan tekanan politik, fisik dan ekonomi dari orang-orang Quraisy), dan di masa sulit itu, security politic dakwah beliau (Abu Thalib) wafat dan menyusul Khadijah yang menjadi tulang punggung psikologisnya (tahun kesedihan, ‘am al huzn). Setelah itu terjadi peristiwa Isra’ Mi’raj untuk menunjukkan kebesaran Allah SWT bahwa yang dibuat manusia adalah kecil, dan dengan Isra’ ini merubah pola pikir beliau, dan turunlah perintah shalat.
Fase ketiga
Fase ketiga: Menjadikan Madinah sebagai basis dakwah karena Mekah tidak layak lagi sebagai tempat penumbuhan dakwah Islam. Masa di Madinah; membangun Masjid, mempersaudarakan Muhajirin-Anshar, membuat dekalrasi bersama dengan orang-orang Yahudi, memperkokoh militer, menciptakan pasar. Di usia 53 tahun (disaat fisik semakin menua), tekanan fisik, politik, militer, dll. semakin bertambah, terlibat sekitar 28 peperangan yang beliau pimpin secara langsung, fathu makkah (melakukan ekspansi keseluruh jazirah Arab), dan lain-lain.
Kesimpulan
Selama masa kenabian 22 tahun 2 bulan 22 hari, Nabi Saw mengawali dakwah dengan; “iqra’ bismirabbikalladzi khalaq…”, dan mengakhirinya dengan; “al-yauma aklmaltu lakum dinakum…”. Hal ini meniscayakan Pentingnya perencanaan (standar evaluasi perjalanan hidup, fokus dan keterarahan, menata hidup lebih efektif dan efisiensi, hal ini tidak lain guna mengantisipasi akhirat.[]










